Ummu Salamah

UMMU SALAMAH

Istri Rosulullah yang Pertama Kali Hijrah ke Madinah  

            Dia  adalah Hindun binti Abu Umayyah bin Al Mughirah Al-Makhzumiyyah yang berasal dari suku Quraisy. Ayahnya adalah seorang pemuka suku Quraisy yang sangat dermawan sehingga ia dijuluki Zaadur Rokbi(pemberi bekal kafilah). Ibunya adalah ‘Atikah binti ‘Amir bin Rabi’ah Al-Kinaniyyah dari bani Faras. Sebelum ia menikah dengan Rosulullah SAW, Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah, setelah wafat Abu Salamah ia di pinang oleh Rosulullah SAW.

Pelajaran dari Kisah Perjalanan Hidup Beliau:

1)      Seorang wanita yang cantik, cerdas, dan mempunyai harga diri yang tinggi. Walaupun ia berparas cantik, tapi ia tak seperti perempuan kebanyakan di zaman jahiliyyah, bahkan ia berakhlak mulia dan cerdas.

2)      Tipe istri yang amanah dan bertanggung jawab. Ia selalu setia, taat dan benar-benar menunaikan apa yang menjadi hak suami atas dirinya. Baik saat suaminya ada maupun suaminya tidak ada di sisinya. Ia tidak menghianati suaminya ketika ia di tinggal hijrah oleh suaminya yaitu Abu Salamah, karena ia di tahan oleh kaumnya saat ia hendak ikut hijrah bersama anak dan suaminya.

3)      Membuat ridho suami. Ia mampu memberi hak, perhatian, dan cinta pada suaminya. Ia menciptakan suasana yang tenang, tentram dan nyaman ketika suaminya berada di rumah.

4)      Setia mendampingi suaminya walaupun harus menerima tekanan dan siksaan yang luar biasa hebatnya.

5)      Mempunyai keimanan dan aqidah yang menancap kokoh dalam jiwanya. Ia rela jirah  ke habasyi bersama anak dan suaminya dengan mempertahankan keimanan dan keyakinan dalam Islam. Bahkan ia termasuk orang yang pertama kali jirah ke Habasyi dan ke Madinnah.

6)      Sabar dan tidak putus asa menghadapi ujian, ini dibuktikan dengan ketegarannya menghadapi segala macam tekanan, yang mana hal tersebut merupakan ujian yang sangat berat, bahkan pada umumnya wanita tak akan mampu menghadapinya. Yaitu ketika ia ditahan oleh kaumnya dari jirah bersama anak dan suaminya, sehingga ia tinggal sendiri di Mekkah. Derita jiwa yang dilaminya ini berlangsung selama satu tahun. Tapi hal itu tidak menggoyahkan imannya sedikitpun, bahkan keyakinannya terhadap pertolongan Allah SWT semakin kuat.

7)      Seorang ibu dan seorang istri yang penuh kasih sayang serta berjiwa pendidik. Ia mendidik anaknya sementara suaminya berjihad melawan musuh –musuh Allah SWT. Ia juga merawat suaminya dengan penuh kasih saat suaminya mengalami luka panah di lengan dalam tragedi perang Uhud.

8)      Memiliki ilmu yang mendalam dan pemahaman yang tinggi. Ini dibuktikan dari sikapnya yang selalu menyokong suaminya dalam berjihad fisabilillah.

9)      Menghadapi musibah dengan penuh Keimanan, kesabaran, dan pasrah terhadap ketentuan Allah SWT. Terbukti saat ia menghadapi kewafatan Sang suami tercinta dengan rela pada takdir Allah SWT.

10)  Mempunyai keyakinan yang kuat terhadap janji-janji Allah SWT dan Rosal-Nya, sehingga do’anya dikabulkan. Ketika Abu Salamah ra terbaring sakit akibat dari luka panah di lengannya kambuh yang merupakan bekas dari perang Uhud, ia menyampaikan sabda Rosulullah SAW pada istrinya. Abu Salamah berkata pada istrinya:” wahai UmmuSalamah, aku pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang musllim tertimpa suatu musibah, lalu mengucapkan “Innalillahi wa innalillahi rooji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kita kemballi), kemudian berdoa, “Allahumma’jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khoiron minhaa”(Ya Allah, berilah aku pahala, karena musibah yang menimpaku ini dan berilah aku ganti dengan yang lebih baik daripadanya), melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” Dan setelah wafatnya Abu Salamah, maka Ummu Salamah pun teringat akan sabda Rosulullah SAW yang didengarnya dari almarhum suaminya Abu Salamah. Lalu ia berdoa seperti doa yang terkandung dalam sabda Rosulullah SAW tersebut. Belum sampai ia meneruskan doanya dengan: “…Wa aklliflii khorun minhaa”(dan berrilah aku ganti dengan yang lebih baik daripadanya  dia bertanya-tanya dalam benaknya: “Memang siapa lagi orang yang lebih baik daripada Abu Salamah, yang bisa saya harapkan?” Akan tetapi, akhirnya ia tetap meneruskan doanya semata-mata sebagai bentuk Ibadah kepada Allah SWT.

 Setelah masa iddahnya selesai, Rosulullah SAW pun mulai memikirkan wanita yang mulia, mukminah yang sabar, setia, dan tulus. Suatu hari Rosulullah SWA menyampaikan maksudnya untuk meminang  Ummu Salamah, hampir-hampir UmmuSalamah tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Sesaat kemudian ia teringat dengan doa yang diajarkan almarhum suaminya, yaitu:”…wa akhlif lii khoiron minhaa…”(dan berilah aku ganti dengan yang lebih baik daripadanya). Dalam  hatinya Ummu Salamah berkata,”Memang beliaulah orang yang lebih baik dari Abu Salamah”.

11)  Mempunyai hati yang tulus dan keimanan yang kokoh. Ini di buktikan dari sikap terus-terangnya menjelaskan kekurangan-kekurangannya pada Rosulullah SAW saat Rosulullah bermaksud untuk melamarnya.

12)  Seorang wanita yang tangguh dan bijak dalam menyikapi ujian serta mampu memberi solusi yang brillan. Hal ini dapat dilihat ketika ia mamberi usulan pada Rosulullah SAW saat para sahabat tidak merespon perintah beliau untuk melakukan tahalllul dan menyembelih kurban, Rosulullah menginstruksikan hal tsb hingga tiga kali, beliau sedih dan menemui istranya UmmuSalamah, lalul Ummu Salamah memberi usul agar Rosulullah SAW keluar dan tidak bicara dengan siapapun lalu menyembellih kurban dan mencukur rambutnya. Melihat hal itu para sahabat pun bangkit dan mengikuti apa yang telah dilakukan beliau. Ternyata usulan Ummu Salamah berhasil menyelesaikan masalah. Para sahabatpun akhirnya ridho dengan reallita yang telah terjadi, yakni perjanjian Hudaibiah.

Demikianlah tipe wanita yang mulia ini. Dengan ide-idenya dan keilmuannya yang didasari keimanan ia mampu menyelesaikan masalah yang menimpa kaum muslimin, sehingga setan yang ingin mendapatkan tempat persembunyian dalam jiwa sahabat yang mulia terusir dengan hina dina. Akhir dari makalah ini semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya pada wanita agung ini dan semoga Allah memudahkan kkita untuk mengikuti jejak langkah dan keteguhannya mengarungi jalan dakwah. Amiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s