Sifat-Sifat Pemimpin dan sebab-sebab Tasaquth dari Actuating

Sebab-sebab Tasaquth yang bersumber dari pergerakan ( actuating) dan Sifat Pemimpin Pergerakkan 

a)      Lemahnya aspek tarbiyah

Perhatian setiap individu, baik sebagai bawahaan  maupun atasan, tehadap tarbiyah seharusnya menjadi kesibukan utama bagi sebuah pergerakan. Bagaimana kondisi yang terjadi disekelilimgnya, bahkan situasi buruk apapun yang kadang mengiringi jalannya dakwah, tetap harus memperhatikan tarbiyah, bukan malah sebaliknya.

Apabila tidak ada sistem tarbiyah  yang mampu mengontrol, menjaga dan membina anggotanya, maka akan menemui kehancuran dan keruntuhan.

Ikatan individu dengan pergerakan harus dibangun diatas ikatan Allah dan ajaran Islam, sebab, pergerakan atau struktur bukan tujuan. Melainkan merupakan sarana untuk melaksanakan perintah Allah dan menggapai keridhaan-Nya, bukan sarana untuk mewujudkan kepentingan pribadi para aktivisnya

b)      Tidak profesional dalam memposisikan anggota

Pergerakan yang tidak profesional adalah pergerakan yang tidak mengetahui, bakat, kemempuannya, dan kecendrungannya dari anggotanya. Seharusnya juga mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka.

c)      Tidak memberdayakan semua anggota

d)     Lemahnya kontrol

Anggota pergerakan harus menyatu dengan lembaga majlis ta’lim / lembaga yang diikutinya dan saudara-saudaranya. Memang perasaan seperti ini tidak bisa muncul tiba-tiba, tapi dari latihan, pembiasaan secara sungguh-sungguh dan kontinu, sikap saling menanggung , saling melengkapi dalam hal kejiwaan, perasaan,, mentalitas, dan materi, serta kontrol-kontrol yang terus menerus.

e)      Kurang sigap dalam menyelesaikan persoalan

f)       Konflik internal

g)      Pemimpin yang lemah

Sifat yang harus dimiliki pemimpin pergerakan ( actuating)

  • Mengenal dakwah / majlis ta‘lim
  •  Mengenal diri

Pemimpin harus mengetahui titik kelemahan dan kelebihan pada dirinya, kalo tidak maka sulit untuk mencapai kesuksesan, bahkan dapat menimpakan bencana dan bahaya bagi proses majlis ta’lim.

  • Perhatian yang utuh
  •   Teladan yang baik

Anggota pergerakan akan selalu menganggap pimpinannya sebagai figur yang diteladani dan ditiru

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“ ( QS. Al-Ahzab: 21).

  • Pandangan yang tajam

Kemampuan pemimpin dalam melakukan penilaia secara cepat terhadap berbagai peristiwa, serta kemampuannya mengambil keputusan tegas dan bijak dalam berbagai situasi, dapat menumbuhkan kepercayaan dan penghargaan anggota kepadanya.

Sebaliknya, keragu-raguan, ketidakjelasan, kebingungan, melemahkan kepercayaan dapat menghilangkan kedisiplinan anggota

  •  Kemauan yang kuat

Kuatnya kemauan adalah salah satu pilar pribadi pemimpin yang dapat menaklukan berbagai kesulitan, menyelesaikan berbagai kesulitan, menyelesaikan berbagia problem dan meretas berbegai tantangan.

  • Fitrah yang mengundang simpati

Ini merupakan sifat pembawaan. Bila hal in terdapat dalam diri seorang pemimpin, maka ia akan mampu menarik simpati tanpa dipaksakan. Dan, ini merupakan unsur terkuat yang membentuk kepribadian pemimpin.

  •   Optimisme

Optimisme merupakan hal esensial yang harus dimilik pemimpin. Utamnya dalam memandang masa depan dengan penuh harap dan kelapangan dada, tanpa menghilangkan sikap mawas diri terhadap hari-hari yang selalu menyimpan berbagai kejutan.

Putus asa adalah faktor penyebab kehancuran dalam kehidupan individu dan jama’ah.

Pemimpin adalah perintis jalan dan kepala rombongan yang memiliki pengaruh kuat terhadap barisan. Bila ia lemah dan mudah putus asa, maka barisanpun akan mengikutinya. Bila ia tegar menghadapi berbagai bencana dan berbagai tantangan, maka optimism dan semangat pentang mundur akan memenuhi jiwa bawahannya.

Kesimpulnnya

Manajemen majlis ta’lim tidak akan pernah sukses tanpa adanya actuating karena ini menjadi penting dalam memperlancar kegiatan yang ada didalam majlis ta’lim ini, sebab kalo setiap orang tidak mempunyai kesadaran untuk menunaikan tugas dan tanggung jawabnya serta tidak ada pengarahan kearah tujuan sebuah majlis ta’llim dari pimpinan maka tunggulah kehancuran sebuah majlis ta’lim ini.

Refrensi

Alqur’anul Karim dan Terjemahnya

Jurnal Da’wah, Manajemen Da’wah ( Didin Muhidin) 2010,

Fathi Yakan, Yang Berjatuhan dijalan Dakwah, Jakarta: Al-I’tshom, 2007

Muhammad Hasan  Buraighisy, Juru Da’wah Muslimah, Jakarta: Gema Insani Press, 1996

Samsul Munir Amir, Ilmu Da’wah, Jakarta: Amzah, 2009

Shadiq Amin, Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal, Jakarta: Al-Itshom, 2010

Muhammad Firdaus, “Muhammad Bin Abdul Wahab dan Pemikirannya”, Jurnal Da’wah, I, 2, Juni, 1996, hal. 135.

Saleh S. Al-Wohaibi, “Fair Dealings”, Muslim Youth, XVI, 112, 2003, hal. 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s