Majlis Ta’lim di Masa Rasulullah

                         Periode Makkah { 13 Tahun }[1]

  • Fase Makkah I { 3 Tahun } Da’wah Secara Sirriyah.

Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.{QS. Al-Muddatstsir : 1-7 }

Rasulullah saw pertama kali menda’wahkan Islam kepada keluarga terdekat, yaitu di barisan depan  terdaftar isteri Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, maula (budak) beliau, Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi, keponakan beliau, ‘Ali bin Abi Thalib yang ketika itu masih anak-anak dan hidup dibawah tanggungan beliau , serta shahabat paling dekat beliau, Abu Bakr ash-Shiddiq. Mereka semua memeluk Islam pada permulaan dakwah.

Kemudian, Abu Bakr sangat antusias dalam mendakwahkan Islam. Dia adalah sosok laki-laki yang lembut, disenangi, fleksibel dan berbudi baik. Para tokoh kaumnya selalu mengunjunginya dan sudah tidak asing dengan kepribadiannya karena keintelekan, kesuksesan dalam berbisnis dan pergaulannya yang baik. Dia terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu berinteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk Islam lah ‘Utsman bin ‘Affana al-Umawi, az-Zubair bin al-‘Awam al-Asadi, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash az-Zuhriyan dan Thalhah bin ‘Ubaidillah at-Timi. Kedelapan orang inilah yang terlebih dahulu masuk Islam dan merupakan gelombang pertama dan palang pintu Islam.

Diantara orang-orang pertama lainnya yang masuk Islam adalah Bilal bin Rabah al-Habasyi, kemudian diikuti oleh Amin (Kepercayaan) umat ini, Abu ‘Ubaidah; ‘Amir bin al-Jarrah yang berasal dari suku Bani al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin ‘Abdul Asad,

 al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), ‘Utsman bin Mazh’un – dan kedua saudaranya; Qudamah dan ‘Abdullah -, ‘Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf, Sa’id bin Zaid al-‘Adawy dan isterinya; Fathimah binti al-Khaththab al-‘Adawiyyah – saudara perempuan dari ‘Umar bin al-Khaththab -, Khabbab bin al-Arts, ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazaly serta banyak lagi selain mereka. Mereka itulah yang dinamakan as-Saabiquunal Awwaluun. Mereka terdiri dari semua suku Quraisy yang ada bahkan Ibnu Hisyam menjumlahkannya lebih dari 40 orang.

Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Maka cara yang sama pun dilaklukan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam pertemuan beliau dengan pengarahan agama yang diberikan, karena dakwah ketika itu masih bersifat individu dan sembunyi-sembunyi.

Tiga tahunpun berlalu sementara dakwah masih berjalan secara sembunyi-sembunyi dan individu. Dalam tempo waktu ini terbentuklah suatu jamaah Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas) serta penyampaian risalah dan proses reposisinya. Kemudian turunlah wahyu yang membebankan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan, menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.

b. Fase Makkah II { 10 Tahun } Da’wah Secara Terang-Terangan.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.”                  { Qs. asy-Syu’araa’ : 214-215 }

  • Darul-Arqam

Diantara hikmah kenapa Rasulullah dalam menghadapi penindasan-penindasan tersebut, melarang kaum Muslimin memproklamirkan keislaman mereka baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan serta tidak mengizinkan mereka bertemu dengan beliau kecuali secara rahasia adalah karena bila mereka bertemu dengan beliau secara terbuka maka tidak diragukan lagi kaum Musyrikin akan membatasi gerak beliau sehingga keinginan beliau untuk mentazkiyah (menyucikan diri) kaum Muslimin dan mengajarkan mereka al-Kitab dan as-Sunnah akan terhalangi. Dan barangkali, bisa menyebabkan berbenturnya antara kedua belah pihak bahkan (realitasnya) hal itu benar-benar terjadi pada tahun ke empat dari kenabian.

Oleh karena itu, para shahabat secara umum menyembunyikan keislaman, peribadatan, dakwah dan pertemuan mereka. Sedangkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukannya secara terbuka dalam berdakwah dan beribadah di depan mata kaum Musyrikin. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalang-halanginya. Namun begitu, beliau tetap melakukan pertemuan dengan kaum Muslimin secara rahasia demi kepentingan mereka dan agama Islam. Tempat tinggal  al-Arqam bin Abi al-Arqam Makhzumi yang berada diatas bukit shafa dan terpencil sehingga luput dari intaian mata-mata Quraisy. Tempat itulah yang dijadikan oleh beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagai pusat dakwah dan sekaligus menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin semenjak tahun kelima dari nubuwah. Disana, beliau membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan hati mereka serta mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah).

  • Hijrah Pertama Menuju Negri Habasyah

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanm, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan, dan bumi Allah itu adalah luas, sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” { QS. Az-Zumar : 10 }

Rasulullah telah mengetahui bahwa Ash-himah an-Najasyi, raja Habasyah adalah seorang yang adil, tidak seorangpun yang berada disisinya terzhalimi; oleh karena itu, beliau memerintahkan kaum Muslimin agar berhijrah ke sana guna menyelamatkan agama mereka dari fitnah.

Rombongan pertama yang membawa para shahabat bergerak pada bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian. Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita, dikepalai oleh ‘Utsman bin ‘Affan yang ditemani oleh Ruqayyah binti Rasulillah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasulullah menyifati keduanya sebagai keluarga pertama yang berhijrah dijalan Allah setelah Nabi Ibrahim as dan nabi Luth as.

Hijrah kali ini  (rombongan kedua) membawa rombongan dengan jumlah 101 yang terdiri dari 83 orang laki-laki 18 wanita. Hijrah kali ini lebih sulit dari pada hijrah yang pertama. Sebab orang-orang Quraisy meningkatkan kewaspadaan dan berencana untuk menggagalkan jalan bagi mereka menuju habasyah.

  • Da’wah Islam diluar Makkah ( Rasulullah saw Hijrah ke Thaif)

Meninggalnya paman (Abu Thalib) dan istrinya tercinta (Khadijah) pada tahun yang sama yakni ditahun kesepuluh kenabiannya telah menorehkan duka dan lara dihati Rasulullah saw, belum lagi cobaan yang dilancarkan oleh kaumnya sehingga tahun itu disebut dengan “Amul-Husni” tahun duka cita, karena dengan kematian keduanya kaum Quraisy semakin berani menyakiti dan mengganggu beliau.

Untuk itu beliau pergi ke Thaif, dengan harapan mereka berkenan untuk menerima da’wah atua minimal mau melindungi atau menghulurkan pertolongan dalam menghadapi kaum beliau. Sebab beliau tidak lagi melihat seseorang yang bisa memberika perlindungan dan pertolongan.

Rasulullah saw hijrah ke Thaif pada tahun kesepuluh kenabian yaitu pada bulan sya’ban atau pada akhir bulan mei-awal juni 619 M dengan ditemani oleh pembantunya Zaid bin Haritsah. Setiap kali beliau melewati suatu kabilah Rasulullah mengajak mereka kepada Islam Hingga sampai di Thaif. Sesampainya di Thaif bukannya mendapatkan apa yang diharapkan, akan tetapi sebaliknya, Rasulullah saw mendapatkan siksaan yang kejam dari masyarakat thaif, yang justru tidak pernah beliau alami sebelum itu dari kaumnya.

  • Baiat Aqabah Pertama

Baiat aqabah pertama terjadi pada musim haji tahun kesebelasan dari Nubuwwah, dan mereka berjanji kepada Rasululah saw untuk menyampaikan risalah ditengah kaumnya.

Pada baiat aqabah pertama diikuti eloh 12 orang, 5 orang diantaranya adalah yang pernah berhubungan dengan Rasulullah saw sebelumnya.

~As’ad bin Zurarah, dari Bani An-Najar.

~Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah, dari Bani An-Najar.

~Rafi’ bin Malik, dari Bani Zuraiq.

~Quthbah bin Amir bin Hadidah, dari Bani Salamah.

~Uqbah bin Amir bin Nabi, dari Bani Ubaid bin Ka’b.

~Mu’adz bin Al-Harits, dari Bani An-Najjar dari Khazraj.

~ Dzakwan bin Abdul-Qais dari BAni Zuraiq dari Khazraj.

~Ubadah bin Ash-Shamit, dari Bani ghanm dari khazraj.

~Yazid bin Tsa’labah, dari sekutu Bani Ghanm dari Khazraj.

~Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah, dari Bani Salim dari Khazraj.

~ Abul Haritsam bin At-Taihan, dari Bani Salim dari Khazraj.

~ Uwaim bin Sa’idah, dari Bani Amr bin Auf dari Aus.

Adapun isi dari baiat aqabah partama, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ubadah bin As-Shamit, bahwa Rasulullah saw bersabda “Kemarilah dan berbaiatlah kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah Ta’ala, tidak mencuri,tiodak berzinah, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurhakai dalam urusan yang baik.

 Barang siapa yang mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa didunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusanya terserah Allah. Jika menghendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki dia akan mengampuninya”. Lalu Aku berbaiat kepada beliau.

Duta Islam di Madinah

            Setelah baiat itu terlaksanakan secara sempurna dan musim haji juga sudah selesai, maka Rasulullah saw mengirim duta yang pertama ke Yastrib ( Madinah ) bersama-sama dengan mereka, untuk mengajarkan syariat Islam dan pengetahuan agama kepada orang-orang muslim disana, sekaligus menyebarkan agama Islam diantara penduduk yang masih musyrik. Tugas duta ini diserahkan kepada Mus’ab bin Umair Al-Abdari, ia adalah seorang pemuda yang termasuk pendahulu masuk Islam.

  • Baiat Aqabah Kedua

Baiat aqabah kedua terjadi pada musim haji tahun ketiga dari nubuwwah (  bulan juni, tahun 622 M ), baiat aqabah kedua ini diikuti oleh 70 orang lebih dari penduduk Yastrib.

Klausal Baiat

Imam Ahmad meriwayatkan masalah ini secara rinci dari jabir, dia berkata, “ Kami berkata, ‘ Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada engkau?’ rasulullah saw menyampaikan klausal baiat sebagai berikut:

  • Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas.
  • Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah.
  • Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
  • Untuk berjuang karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela.
  • Hendaklah kalian menolong jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak – anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.

Dua Belas Pemuka Kaum

            Setelah proses baiat selesai, Rasulullah saw meminta menunjuk 12 orang agar menjadi pemuka bagi kaumnya masing-masing. Rasulullah bersabda “ Tunjuklah 12 orang diantara kalian untuk menjadi pemimpin bagi kaumnya dan bertanggung jawab terhadap mereka.”

            Seketika itu mereka menunjuk 12 orang pemuka, Sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus, mereka adalah:

a)      As’ad bin Zurarah, dari Bani An-Najar.

b)      Sa’d bin Ar-Rabi’ bin Amr.

c)      Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah.

d)     Rafi’ bin Malik, dari Bani Zuraiq.

e)      Al-Barra’ bin Ma’rur bin Shahr.

f)       Abdullah bin Amr bin Haram.

g)      Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais.

h)      Sa’d bin Ubadah bin Dulaim.

i)        Al-Mundzir bin Amr bin Khunais.

j)        Usaid bin Hudhair bin sammak.

k)      Sa’d bin Khaitsamah bi Al-Harits.

l)        Rifa’ah bin Abdul-Mundzir bin Subair.


[1] [1] Referensi : Al-Mubarakfuri Shafiyyurahman, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Al-Kautsar,2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s