Sejarah PERSIS ( Persatuan Islam )

PERSIS ( PERSATUAN ISLAM )

Persis

I.                   Pendahuluan

Segala puji bagi Allah SWT, sholawat dan salam  kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada para shahabatnya, dan para para pengikutnya hingga akhir zaman.

PERSIS merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang pembaharuan.  Tujuannya adalah berlakunya hukum-hukum dan ajaran Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Usahanya terutama membasmi bid’ah, khurafat, takhayul, taqlid, dan syirik dikalangan umat Islam, memperluas tabligh dan da’wah Islam.[1]

II.                Pembahasan
A.    Sejarah Persis

Ide pendirian organisasi ini berasal dari pertemuan – pertemuan bersifat kenduri yang diadakan secara berkala di rumah salah seorang anggota kerabat yang berasal dari palembang, tetapi telah lama menetap di bandung.[2]

Disebuah gang ( jalan kecil) bernama gang pakgade banyak berkumpul kaum saudagar dan pedagang yang sering disebut dengan “urang pasar” meskipun sama kecilnya dengan gang yang lain dan tidak memiliki keistimewaan apa-apa, namun gang pakgade inilah yang mencatat sebuah sejarah berdirinya suatu organisasi pembaharuan islam membersihkan dari khurafat dan bid’ah yang mengotorinya.[3]

H. Zam-zam ( 1984-1952) menghabiskan waktunya selam tiga tahun di Makkah untuk memperdalam agama di lembaga Daral-Ulum sekembalinya dari makkah ia menjadi guru di Darul Muta’allim yang mempunyai hubungan erat dengan syekh Ahmad Surkati dari al-Irsyad di jakarta. M. Yunnus yang memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan pandai b. Arab tetapi dia tidak pernah mengajar ia hanya berdagang.[4]

Topik pembicaraan dalam kenduri itu bermacam-macam misalnya masalah-masalah agama yang kemudian dimuat dalam majalah Al-Munir yang terbit di Padang. Majalah al-manar yang terbit di mesir, pertikaian –pertikain al-irsyad dan jami’at khair di Jakarta.dan berbagai persoalan lainnya.

Pertemuan-pertemuan dalam kenduri itu menjelma menjadi kelompok penelaan ( study club) dalam bidang keagamaan dimana para anggota kelompok tersebut dengan penuh kecintaan menelaah mengaji serta menguji ajaran-ajaran yang diterimanya . sedangkan dilain pihak keadaan kaum muslimin Indonesia tenggelam dalam taqlid, jumud, tarekat, khurafat, takhayul, bid’ah, dan syirik sebagaimana terhadap didunia islam lainnya yang diperkuat oleh cengkraman penjajahan Kaum nasrani Belanda. Para anggota kelompok itu semakin tahulah hakikat Islam sebenarnya dan mereka pun sadar akan keterbelakangan dan kejumudan, yang menyadarkan mereka untuk membuka pintu ijtihad dan mengadakan pembaharuan serta pemurnian agama islam di masyarakat.

Persis didirikan secara Resmi pada 12 september 1923 di Bandung oleh sekelompok Orang Islam yang berminat dalam kajian dan aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh haji Zamzam dan haji Muhammad Yunus.pendirian penghimpunan ini bermula dari upaya beberapa muslim untuk memperluas diskusi-diskusi keagamaan yang sudah beberapa bulan melakukan informal.[5]

Nama persatuan islam itu diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi yaitu: Persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, Persatuan Usaha Islam, dan persatuan suara islam. Bertitik tolak dari persatuan pemikiran , usaha, dan suara islam itulah maka: jam’iyyah atau organisasi itu dinamakan “ persatuan islam (persis).[6]

Selain itu nama tersebut diilhami pula oleh firman Allah:

 berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Qs. Ali-Imron:103)

Serta sebuah hadist yang diriwayatkan oleh  H.R Tirmidzi yang berbunyi : “ kekuatan Allah itu besarta jama’ah .”firman Allah dan Hadist itu dijadikan motto persis dan tertera didalam lambang persis dalam lingkaran bintang bersudut dua belas[7].

Berbeda dengan organisasi –organisasi lain yang bediri pada awal abad 20. Persis mempunyai ciri tersendiri dimana kegiatannya dititk beratkan pada pembentukkan faham keagamaan. Inilah yang menjadi misi utamnya adalah mengembalikan umat islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah SAWSedangkan kelompok-kelompok pergerakan yang telah diorganisasikan. Misalnya budi utomo yang didirikan pada 1908, hanya bergerak dalam bidang pendidikan bagi orang-orang pribumi ( khususnya orang-orang jawa). Sementara sarekat Islam yang diorganisasikan pada 1912 hanya bergerak dalam kemajuan bidang perdagangan dan politik. Dan muhammadiyah yang berdiri pada 1912pula , gerakkannya diperuntukkan bagi kesejahteraan sosial masyarakat muslim dan kegiatan pendidikan keagamaan.[8]

Selama zaman kolonial Belanda ( sejak awal berdiri nya), persis menitik beratkan perjuangannya dalam menyebarkan dan menyiarkan faham dan aliran Qur’an sunnah kepada masyarakat kaum muslimin, dan bukan untuk memperbesar atau memperluas jumlah anggota dalam organisasi.

Pada masa penjajahan Belanda, Persis memiliki dua muka perjuangan yaitu: kedalam, ia secara aktif membersihkan islam dari faham-faham yang tidak berdasarkan Al-qur’an dan Hadits Nabi  terutama yang menyangkut aqidah dan ibadah serta menyeru umat islam supaya berjuang atas dasar al-Qur’an dan As-sunnah. Sedangkan ke luar. Ia secara aktif menentang dan melawan setiap aliran dan gerakan anti Islam yang hendak merusak dan melawan setiap aliran dan gerakan anti Islam yang hendak merusak dan menghancurkan islam di Indonesia.[9]

Guru utama persis

Hassan bin Ahmad yang lebih dikenal dengan A. Hassan, Ibunya Hajjah Muznah ( Seorang keturunan madras kelahiran Surabaya. Ayahnya Ahmad ( Sinna Wappu Maricar) mempunyai asal-usul keturunan dari Mesir yang menetap lama di India.[10]

Ahmad hassan lahir di Singapura pada 1887, berasal dari kelurga campuran indonesia dan india. Atas dorongan dari dua sahabatnya bibi wentee dan muallimin ia pindah ke Bandung pada tahun 1924 untuk mendirikan perusahaan tekstil. Namun perusahaan itu yang didirikan gagal sehingga ditutup. Selama di bandung ia tinggal dirumah H. Muhammad Yunus salah seorang pendiri PERSIS, selama disana ia sering mengikuti pengajian, akhirnya pada tahun 1926 iapun bergabung dalam PERSIS.[11]

B.     Struktur Organisasi persis

  • Kepemimpinan Persatuan Islam[12]

  1. Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang,

  2.  Kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom). Jadi masa kepemimpinannya cenderung kearah Islam politik.

  3. Kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.  Persis dibawah Pimpinannya bersifat apatis terhadap dunia pepolitikan indosesia. Pada masa itu ia lebih fokus kepada pendidikan di pesantren persis

  4. K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997)

  5. K.H. Shiddiq Amien (1997-2005)

Di bawah kepemimpinan KH. Shiddiq Amienullah, anggota simpatisa Persis beserta otonomnya tercatat kurang lebih dari tiga juta orang yang tersebar di 14 provinsi dengan 7 pimpinan wilayah, 33 Pimpinan Daerah dan 258 Pimpinan Cabang. Bersama lima organisasi otonom Persis, yakni Persatuan Islam Istri (Persistri), Pemuda Persis, Pemudi Persis, Himpunan Mahasiswa (HIMA) Persis, Himpunan Mahasiswi Persis, aktifitas Persis telah meluas ke dalam aspek-aspek lain tidak hanya serangkaian pendidikan, penerbitan dan tabligh. Tetapi aktifitas Persis meluas ke berbagai bidang garapan yang dibutuhkan oleh umat Islam melalui bidang pendidikan (pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi), dakwah, bimbingan haji, perzakatan, social ekonomi, perwakafan, dan perkembangan fisik yakni pembangunan-pembangunan masjid dengan dana bantuan kaum muslimin dari dalam dan luar negeri, menyelenggarakan berbagai seminar, pelatihan dan diskusi pengkajian Islam.

Demikian pula fungsi Dewan Hisbah sebagai lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan hokum Islam di kalangan Persis serta Dewan Tafkir semakin ditingkatkan aktiftasnya dan semakin intensif dalam penelaahan berbagai masalah hokum keagamaan, perhitungan hisab, dan kajian social semakin banyak dan beragam.

6. Sepeninggalnya KH. Siddiq Amien (31 Oktober 2009), ketua umum Persis dipegang oleh Prof.  Maman Abdurrahman, penunjukkan ini dilakukan oleh Musyawarah Khusus PP persis di Qarnul Manazil bandung yang dipimpin Majlis Penasehat PP. Persis. Muktamar ke XIV di Tasikmalaya yang berlangsung pada tanggal 25-27 September 2010 untuk masa jihad 2010-2015. Dalam sambutannya sebagai ketua Umum Persis, mengatakan: kita akan jihad fi Sabilillah melalui da’wah dan tarbiyah.

Priode 2010-2015[13]

Ketua bidang da’wah

Pp persis

KH. Wawan Shofwan

NIAT. 30400

Ketua Bidang Garapan Sumber Daya Da’wah PP Persis

Nurmawan, M.Ag

Ketua Umum PP Persis

Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA

NIAT: 07070

Sekretaris Umum PP Persis

Dr. H. Irfan Safrudin, M.Ag


[1] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Jakarta: Gema Insani, 2004, hal. 202

[2] Dadan Wildan, PERSIS  ( Persatuan Islam dalam pentas Sejarah Islam Indonesia ), hal. 29

[3] Ibid), hal. 29

[4] Ibid, hal.30

[5] Rijal Arham, Da’wah Tajdid Islam di Banten ( Studi kasus Da’wah Persatuan Islam di Kp. Gunung Buntung), Skripsi,Jakarta: Perpustakaan STID Mohammad Natsir, 2007, hal. 43

[6] Dadan Wildan, PERSIS  ( Persatuan Islam dalam pentas Sejarah Islam Indonesia ), hal. 32

[7] Filosofinya seperti Muhammadiiyah, yakni bercermin kepada Sahabat Nabi Isa as. yang berjumlah 12 orang yaitu”Ashabun Hawariyun” (Penolong Penegak pengikut Nabi Isa dalam  menegakkan Tauhid). Lihat: QS As-Shaf:3 -7 ..

[8] Ibid, hal. 34

[9] Ibid, hal. 55

[10] Dadan Hamdani, Pemikiran dan Da’wah A. Hassan ( Studi Analisis Metode Debst A. Hassan), Skripsi, Jakarta: Perpustakaan STID Mohammad Natsir, 2004, hal. 32

[11] Ibid, hal.35

[12] Rijal Arham, Da’wah Tajdid Islam di Banten ( Studi kasus Da’wah Persatuan Islam di Kp. Gunung Buntung), Skripsi,Jakarta: Perpustakaan STID Mohammad Natsir, 2007, hal. 51

[13] Persatuan Islam, website:http://www.persatuanislam.or.id/ 15 mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s