Rahasia Dibalik Puasa

RAHASIA DIBALIK PUASA

A. Pengertian Puasa

 Puasa dalam bahasa arab disebut al-Shaum  yang berarti menahan( imsak )[1], sedangkan menurut Bahasa indonesia artinya menahan diri.  Termasuk kedalam pengertian ini menahan berbicara dengan orang lain seperti disebut dalam al- Qur’an:

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.(QS. Maryam : 26)

Kuda yang diam dan tidak bergerak disebut shaim,  demikian juga angin yang tenang disebut al-shaum.  Dari sini dipahami bahwa dalam puasa terkandung arti ketenangan[2]

Secara terminologis puasa diartikan sebagai suatu ibadah yang diperintahkan Allah yang dilaksanakan dengan cara menahan makan dan minum, serta hubungan seksual dari pagi ( terbit fajar ) sampai sore( terbenam matahari )[3].

Muhammad Ibn Isma’il al- Kahlani mendifinisikan puasa dengan menahan diri dari makana, minum, dan hubungan seksual dan lain-lain yang telah diperintahkan menahan diri dari padanya sepanjang menurut cara yang telah ditentukan oleh Syara’[4]

Wahbah al-Zuhaili mendifinisikannya dengan menahan diri disiang hari dari segala yang membatalakan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari atau menahan diri dari syahwat perut dan faraj dan sari sesuatu yang masuk kerongga seperti obat-obatan, makanan, minuman, dan lain-lain pada masa tertentu.[5]

Dari beberapa definisi diatas ditarik pengertian umum puasa yaitu

Suatu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya yang beriman dengan cara mengendalikan diri dari syahwat makan, minum, dan hubungan seksual serta perbuatan-perbuatan yang merusak nilai puasa pada waktu siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengat niat mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala.

Puasa diwajibkan kepada umat islam pada tahun kedua dari hijrah. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan puasa adalah sebagai berikut:

  1. Berniat untuk melaksanakan  puasa sejak sahur sampai berbuka;
  2. Melaksanakan sahur agar memperoleh berkah sahur;
  3. Menahan lapar dan dahaga mulai dari subuh hingga magirb;
  4. Tidak melakukan hubungan suami istri sejak dimulai puasa hingga berbuka;
  5. Mengendalikan hawa nafsu dan melatih kesabaran;
  6. Memperbanyak ibadah sunnat dan mengaji al- Qur’an;
  7. Menyegerakan berbuka jika telah adzan maghrib[6];

2.      Rukun – Rukun dan Syarat- Syarat Puasa
a.      Rukun- Rukun  puasa

Mayoritas ahli Fiqh menetapkan dua macam yang menjadi rukun puasa, yaitu:Menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai dari terbit fajar  sampai terbenam matahari, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” ( QS. Al- Baqarah:187)

  1. Niat

Yang dimaksud dengan niat adalah berkehendak atau berkeinginan untuk mengerjakan puasa pada besok harinya, dengan sadar dan sengaja yang dilakukan dimalam hari sebelum terbit fajar[7]. Dalam ajaran islam kedudukan niat didalam setiap perbuatan amatlah penting, karena dengan niatlah suatu pekerjaan dapat dibedakan apakah dia ibadah atau adat kebiasaan saja.

Nabi SAW bersabda:

عَنْ عمر ر ضي الله عنه أن النبي صلي الله عليه و سلم قا ل إِنَّما الآ عما لُ با النّيا ت وَ إ نَّما لكلّ ا مر ئ ما نوى ( متفق عليه )

Dari Umar ra sebagai sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Bahwasannya segala perbuatan itu tergantung kepada niat dan bagi setiap orang ( mendapatkan ) apa yang dia niatkan. ( HR. Muttafaq’alaih)

Niat menurut jumhur ulama fuqaha harus dikerjakan pada malam hari, puasa yang tidak memakai niat dimalam harinya  dipandang tidak sah  berdasarkahn hadits Nabi SAW bersabda:

منْ لم يجمِعِ الصِّيا مَ الفَجْرِ فَلاِ صِيِا مِ لَهُ

“ Barang siapa tidak meniatkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”[8]

Dalam hal niat puasa ada tiga pendapat[9], yaitu:

  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa: sah puasanya baik yang fardhu maupun sunnat, dengan meniatkan puasanya sebelum tergelincir matahari. Imam Abu Hanifah membenarkan sahnya niat puasa sebelum tegelincir matahari jika dari terbit fajar belum batal puasanya. Niat semacam ini dilakukan oleh Nabi SAW, ketika ia menanyakan makanan kepada istrinya Aisyah, tetapi makanannya tidak ada maka beliau berkata,” Kalau begitu aku akan berpuasa.” Akan tetapi, ulama lainnya mengatakan bahwa niat seperti ini khusus untuk puasa sunnat.
  2.  Pendapat Imam Malik. “ Tidak sah puasa, melainkan dengan diniatkan pada malam hari, fardlu, atau sunnah berdasarkan kepada zhahir hadits Hafshah dan Ibnu ‘Umar bahwa Nabi berkata: “ Tak ada puasa bagi orang yang tidak menatkan puasnya pada malam hari.”
  3. Sebagian fuqaha mengatakan bahwa jika tidak diniatkan pada malam hari, puasa fardhu tidak sah, sedngkan puasa sunnah tetap sah diniatkan pada siang hari.

b.      Syarat- Syarat Puasa
Syarat  wajib puasa ada empat, yatiu:

–          Islam .

–          Baligh ( dewasa ).

–          Berakal sehat.

–          Berkesanggupan puasa.

 

4.      Macam –  Macam Puasa

  1. puasa fardhu

–          Puasa Ramadhan sebulan penuh.

–          Puasa kaffarat ( puasa  membayar denda ).

–          Puasa nadzar.

2. Puasa sunnat

  1. Puasa senin dan kamis.
  2. Puasa 6 hari di bulan syawal.
  3. Puasa hari Arafah (pada tanggal 9 Dzulhijjah).
  4. Puasa sehari dan tidak puasa sehari ( puasa Nabi Daud).
  5. Puasa tiap tanggal pada bulan Qamariah ( 13, 14, & 15 ).

3.      puasa  Makruh

  1. Puasa khusus pada hari jum’at saja.
  2. Puasa pada hari sabtu saja.
  3. Puasa hari Arafah yang bagi yang sedang wukuf di Arafah.
  4. Menghususkan bulan Rajab untuk berpuasa.
  5. Puasa pada hari yang di ragukan.

 4. Puasa Haram

  1. Puasa terus menerus.
  2. Puasa pada hari yang diharamkan yaitu hari Tasyri’ ( 11, 12, 13 Dzulhijjah ).
  3. Puasa dua hari raya ( 1 syawal & 10 dzulhijjah ).
  4. Puasa hari siqqah (30 sya’ban ).
  5. Puasa wanita yang sedang haidh atau nifas.
  6. Puasa sunnat seorang istri yang tanpa izin suaminya ketika suami ada bersama istrinya.
  7. Puasa orang sakit yang dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah.

5.      Ha-Hal Yang Membatalkan Puasa

  1. Makan dan  Minum dengan Sengaja.
  2. Muntah dengan Sengaja.
  3. Haidh dan Nifas.
  4. Infus Makanan.
  5. Hubungan Badan.  


B. KEUTAMAAN PUASA

            Begitu banyak sekali keutaman yang dimiliki puasa baik yang tertera didalam Al-Qur’an maupun dalam Hadist.

Agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Seperti dalam firman Allah SWT:    

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab:35)

Dan firman Allah SWT

“ Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al- Baqarah:184)

Rasulullah sendiri telah menjelaskan dalam sunnah yang menetapkan bahwa puasa merupakan benteng dari serangan nafsu syahwat, sekaligus sebagai perisai dari semburan api Neraka. Dan Allah SWT telah mengkhususkannya sebagai nama salah satu pintu Surga. Selain itu, puasa dapat mengendalikan diri dari gejolak nafsu dan menahannya dari kebiasaan buruknya, sehingga ia benar-benar tentram[10].

Diantara keutamaan- keutaman puasa yang melimpah yang dijelaskan secara rinci dan cukup oleh Al- Qur’an dan hadits-hadist shahih adalah sebagai berikut:

1.      Puasa Adalah Perisai

Rasulullah SAW telah memerintahkan puasa kepada orang yang diliputi oleh nafsu  birahi, sedang dia tidak mampu untuk menikah, karena puasa bisa menjadi pengekang nafsu syahwat tersebut. Di samping itu, puasa juga bisa menahan kekuatan anggota tubuh agar tidak lepas (tanpa kendali) serta dapat menenangkan kekuatannya yang menyimpang dan mengekangnya. Serta puasa juga dapat memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan  untuk memelihara fisik dan kekuatan bathin.

Rasulullah SAW bersabda:

يَا معْشَرَ الشَّبَا بِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمَ الْبَا ءَ ةَ فَلْيَتَزَوَّ جْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلفَرْجِ, وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ, فَعَلَيهِ بِ اصَّومِ ,

 فَـإِنَّهُ لَهُ وِ جَا ءٌ

“ wahai,  sekalian anak muda, barang siapa diantara kalian mampu[11], hendaklah dia menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih tangguh memelihara kemaluan; barang siapa tidak mampu, hendaklah dia berpuasa Karena puasa bisa menjadi perisai baginya.”[12]

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:

الصِّيَا مَ جُنَّهٌ يَستَجَنُّ بِهَا العَبدُ مِنَ النَّارِ.

            “ Puasa adalah perisai, dengannya  seorang hamba melindungi dirinya dari api Neraka.”[13]

2.      Puasa Dapat Memasukan Pelakunya ke Surga

 

Dari Abu Umamah ra, dia bercerita, aku pernah berkata: “ Wahai Rasulullah SAW, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengannya aku bisa masuk Surga.” Maka beliau menajawab: “ Hendaklah kamu berpuasa, karena  tidak ada tandingannya baginya.”[14]

3.      Orang yang Berpuasa akan Diberi Pahala Tanpa Hitungan

 

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘ Allah berfirman’ :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَا مَ, فَإِنَّهُ لِي وَأَنَّهُ لِي وَ أَ نَا أَ جْزِي بِهِ

“ setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa.[15]  Puasa itu intuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala atasnya.” [16]

 

4.      Bau Mulut Orang yang Berpuasa itu Lebih Harum di Sisi Allah daripada Bau MInyak Kesturi

 

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

 

فَإِ نْ سَا بَّهُ أَ حَدٌ أَو قَا تَلَهُ فَلْيَقُلْ: امرُؤٌ صَا ئِمٌ, وَلّذي نَفْسُ مَحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُو فُ فَمِ الصَّا ئِمِ أَطْيَبُ عندَ اللهِ مِن رِيحِ المِسكِ

“Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah dari pada bau minyak kesturi.”[17]

 

5.      Orang yang Berpuasa Mendapat Dua Kegembiraan

 

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

للصّا ئِمِ فَرْ حتَا نِ يَفْرَحُهُمَا : إِ ذَا أٌ فْطَرَ فَرِحَ, وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْ مِهِ

“ Bagi orang yang berpuasa memiliki ada dua kegembiraan: ketika berbuka, dia sangat gembira dengan bukanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, dia juga bergembira dengan puasanya.[18]

6.      Puasa dan al-Qur’an Memberikan Syafa’at Bgi  Orang Yang  Menjalankannya

Rasulullah SAW bersabda:

الصِّيَا مُ وَالقَر آنُ يَشْفَعَا نِ لِلْعَبدِ يَومَ الْقِيَا مَةِ, يَقُو لُ الصِّيَا مُ : أَي رَبِّ مَنَعْتُهُ النَّومِ بِا للَّيلِ, فَشَفِّعْنِ فِيهِ, قَا لَ: فَيُشَفِّعَا نِ

“ Puasa dan al- Qur’an memberi syafa’at kepada hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata: ‘Wahai, Rabbku. Aku telah menahannya dari makanan dan syahwat. Maka perkenankanlah aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Sedangkan al-Qur’an berkata: ‘ Aku telah mencegahnya dari tidur pada malam hari. Maka perkenankanlah aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Beliau bersabda:” Maka keduanyapun diperkenankan member syafa’at.” 

7.      Puasa sebagai Penebus (Kaffarat)

Diantara keutamaan yang dimiliki oleh puasa adalah Allah SWT telah menjadikan sebagai penebus cukur kepala dalam ihram karena adanya alasan tertentu, sehingga tidak dapat mengerjakannya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala; tidak mampu memotong hewan kurban(dam); membunuh seorang dalam sesuatu perjanjian karena kesalahan (bukan disengaja); melanggar sumpah; membunuh binatang buruan pada saat ihram, dan zhihar.

Allah Ta’ala berfirman :    

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban[19] yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalam, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” ( QS. Al- Baqarah : 196)

Allah Ta’ala berfirman :  

… “Dan  jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya [20], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 92)

Selain itu, Allah yang Maha Mendengar lagi maha Mengetahui berfirman:

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al- Maa’idah:  89).

Allah ta’ala juga berfirman :  

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan[21], ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad[22]yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi Makan orang-orang miskin[23]atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu[24], supaya Dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. dan Barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.”  (QS. AL- Maida: 95)

Selanjutnya, Allah yang Maha lembut lagi Maha Mengetahui berfirman:

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi Makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” ( QS. Al- Mujaadilah: 3-4)

Demikian halnya puasa dan sedekah, keduanya berperan serta dalam penebus fitnah (pelanggaran ) seseorang dalam keluarga, harta, dan tetangganya.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

فِتْنَةُ الرَّ جُلِ في أَهلِهِ وَ مَا لِهِ وِ جَا رِهِ تُكضفِّرُ هَا الصَّلاِةَ وَ الصِّيِا مُ وِالصَّدَ قَةٌز

“ Fitnah (pelanggaran ) seseorang dalam keluarga, harta, dan tetangganya dapat ditebus    dengan shalat, puasa, dan sedekah.”[25]

8.      Ar- Rayyan disediakan bagi  Orang-Orang  yang  Berpuasa

 

Dari Sahl bin Sa’ad ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَا بًا يُقَِا لُ لَهُ: الرِّ يَّا نُ , يَدْ خُلُ مِنْهُ الصَّا ئِمُو نَ يَومَِ القِيَا مَةِ, لاَ يَدْ خُلُ مِنهُ أَحَدٌ غَيرُهُم, فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ, فَلَمْ يَد خُلْ مِنهُ أَحَدٌ , ( فَإِ ذَ ا دَ خَلَ آخِرُهُمْ أُغْاِقَ, وَمَنْ دَخَلَ  شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا

“ Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberikan nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari kiamat kelak. Tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu itu. Kemudian, jika mereka sudah masuk, pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu itu. [26](Jika orang yang paling terakhir diantara mereka sudah masuk, pintu itu akan ditutup. Barangsiapa sudah masuk, dia akan minum, dan barang siapa sudah minum, dia tidak akan pernah haus selamanya).”[27]

C. Hikmah Puasa

Islam tidak pernah mensyari’atkan sesuatu kecuali mengandung hikmah, yang terkadang dapat diketahui dan tidak dapat diketahui. Perbuatan Allah SWT selalu tidak pernah lepas dari hikmah. Dia maha bijaksana dalam menciptakan  dan memerintah. Dia tidak pernah menciptakan sesuatu dengan percuma. Hal ini berlaku dengan amal ibadah dan muamalat  seluruhnya sebagaimana juga berlaku dalam kewajiban dan laranganNya.

Allah SWT Maha Kaya, tidak membutuhkan semesta alam, justru hambaNyalah yang membutuhkan. Sikap ta’at para hamba tidak akan memberi manfa’at kepadanya dan sikap maksiat mereka juga tidak akan dapat membahayakanNya. Hikmah yang datang dari sikap taat pasti hanya akan kembali untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk kemaslahatnNya.

Ibadah puasa mempunyai hikmah dan kemaslahatan yang banyak, sebagaimana telah disyaratkan oleh Al-Qur’an dan Hadits. Hikmah tersebut adalah:

1.      Membersihkan Jiwa dengan Menta’ati Perintah Allah dan menjauhi LaranganNya

 

Melatih jiwa agar selalu menghambakan diri secara total hanya kepada Allah walaupun dengan menahan nafsu makan dan nafsu seks, menahan segala Sesutu yang menjadi kesenangan jiwa. Jika mau, ia dapat makan dan minum atau menggauli istrinya dan itu mudah dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Akan tetapi ia tinggalkan semua itu hanya untuk mencari ridha Allah SWT semata.

 

2.      Disiplin Rohaniah

Ibadah puasa merupakan pengekangan, penyingkiran diri dari perbuatan yang membatalkannya. Rahasia untuk melakukannya tergantung pada diri sendiri. Puasa bukanlah semata-mata amalan yang dilihat oleh orang banyak dan Allah SWT, sehingga pada hakekatnya puasa adalah amalan bathin yang terbentuk kesabaran semat-mata. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

الصّو مُ نصفُ الصّبرِ وَ الصَّبرُ نصفُ الإ يما نِ ( رواه البيهقي )

“ puasa adalah separuh kesabaran dan sabar  itu separuh iman ( HR. baihaqi )

 

3.      Pembentukkan Akhlak Karomah

Dengan berpuasa insan dididik untuk berbuat yang baik dan mulia, karena perbuatan yang sifatnya kemungkaran dan ma’siat dapat membatalkan puasa terrsebut, sehingga dengan berpuasa setiap insan dapat merubah dan melengkapi akhlak didalam kehidupannya kepada tingkat yang lebih baik.

 

4.      Pengembangan Nilai-Nilai Sosial kemasyarakatan

 

Merupakan pelatihan agar umat islam terbiasa hidup terratur dan bersatu, sebagai media pelatihan agar mereka cinta keadilan dan persamaan, dan sebagai media pelatihan Agar dalam diri kaum mukminin terrtanam sifat cinta kasih dan akhlak mulia. Juga sebagai media pelatihan agar masyarakat terrpelihara dari kejahatan dan mapsadat[28].

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: “ Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut            keroncongan dan dahaga yang membakar yang sering dirasakan oleh para fakir miskin.”

Ibnu Humman berkata: “ Ketika merasakan perihnya rasa lapar hanya waktu, maka ia akan selalu mengingatnya sepanjang waktu, maka hatinya akan lebih merasa cepat lembut.”[29]

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw “ Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia berhak atas pahalanya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.”

 

5.      Mengandung Manfa’at untuk Menjaga Kesehatan Badan

Sebagaimana telah diakui oleh para dokter ahli bahwa puasa bisa membersihkan usus-usus, memperbaiki lambung, membersihkan badan dari kotoran-kotoran, dan meringankan badan dari himpitan kegemukan[30].

 puasa dengan menahan makan, minum, disamping membangun kekuatan dan ketahana rohani yang juga mempertinggi kekuatan dan ketahanan jasmani, karena umunya penyakit yang menghinggapi tubuh manusia berrsumber dari perut yang menampung semua apa yang dimakan dan diminum[31]

Dapat dibayangkan betapa sibuknya organ-organ dalam perut bekerja mengolah makanan dan minuman yang setiap saat masuk. Jika  organ-organ tersebut tidak diistirahatkan bisa menjadi rusak. Puasa berarti memberikan kesempatan bagi organ-organ tubuh untuk beristirahat sehingga dapat membantu penyembuhan macam-macam penyakit itulah sebabnya banyak diantara dokterr yang menganjurka pasiennya berpuasa disamping menyarankan pengobatan secara medis.

Yusuf Qardhawi menyatakan perut itu merupakan sumber penyakit karena disitu tertampung semua makanan dan minuman maka melaparkan perut adalah raja dari segala makanan dan minuman yang dapat menghadirkan penyakit.[32]

6.      Mengekang Nafsu Syahwat

Puasa  mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mematahkan libido seksual dan mengangkat ke derajat yang sangat terhormat terutama apabila puasa tersebut dikerjakan secara teratur hanya karena mencari pahala dari Allah SWT. Oleh karena itu Nabi menganjurkan kepara pemuda yang belum mampu menikah agar mau berpuasa sampai ia mendapatkan kemampuan untuk menikah. Nabi SAW bersabda:

يامعشَرَ الشِّبا بِ مَنِ استَطَا عَ مِنْكُم البا ئةَ فا ليتزوَّج فإِنهُ أَغَضُّ للبصرَ وَأَحْصّنُ للفر جِ وَمن لم يستطع فعِليهِ با لصّيا مِ فَإِ نَّهُ لهُ وِجا ءٌ

“ wahai segenap pemuda, barang siapa ada diantara kamu yang telah mempunyai kemampuan hendaklah menikah, karena nikah dapat merendahkan pandangan mata dan dapat lebih menetralisir libido seksual. Barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menahan.[33]

 

7.      Menjadikan Orang yang Melakukan Puasa Selalu Ingat Akan Nikmat Allah

Seseorang tidak akan mengetahui nilai suatu nikmat, kecuali setelah ia pernah tidak mendapatkannya. Seseorang akan merasakan nikmat kenyang jika ia pernah merasa lapar dan dahaga. Setelah kenyang, ia pasti akan berkata dalam hatinya: “ Alhamdulillah” . Hal ini akan selalu mendorongnya untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah.

 

8.      Inti dari Semua itu adalah Puasa Dapat Menyiapkan Manusia dan membawanya kederajat Taqwa dan Mengangkatnya Mencapai Derajat Muttaqin.

Imam Ibnu Qayyim berkata: “ Puasa mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam menjaga kekuatan jasmani dan rohani, juga dapat menyelamatkan dari segala hal yang dapat merusak kesehatan jasmani dan ruhani.”

Firman Allah Ta’ala

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al- Baqarah: 183)

Maka jelaslah bahwa hikmah yang terkandung didalam puasa itu ada yang bersifat rohaniyah dan ada yang bersifat jasmaniyah. Kesehatah yang diakibatkan dari puasa bukan saja kesehatan jasmani tetapi kesehatan rohani. Hal ini ditegaskan dari hadits yang diterima dari Abu Hurairah bahwa puasa itu merupakan perisai bagi seeorang ( HR. Al-Bukhari). Perisai yang dimaksud mencakup perisai jasmani dan rohani. Perisai terhadap jasmani berarti terhindar dari segala yang menimbulkan penyakit fisik, dan perisai terhadap rohani berarti terhindar dari perbuatan yang merusak nilai-nilai moral atau ahlak.

 KESIMPULAN

Rahasia yang terdapat dalam puasa memiliki peranan yang sangat luar biasa bagi kemaslahatan manusia karena memiliki sesuatu yang tidak terbayangkan nilainya bagi setiap insan yang menjalanknnya, baik itu puasa wajib maupun puasa sunnat.  

Puasa memiliki keutamaan yang sangat luar biasa yang diberikan oleh Allah swt kepada hambanya yang senantiasa menjalankan puasa. Puasa memiliki hikmah yang banyak serta memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang karena orang yang senantiasa berpuasa bisa berpengaruh dalam pengontrolan kondisi jiwanya, baik dalam pembentukkan akhlakul karamah, pengembangan nilai-nilai sosial terhadap sodara-sodaranya, serta puasa bisa memperbaiki pencernaan, karena didalam pencernaan itu sendiri terdapat  berbagai macam penyakit.

Puasa bisa diartikan sebagai suatu cara atau siasat untuk pengontrolan jiwa antara hubungan manusia dengan Allah SWT serta hubungan manusia dengan manusia. Karena dengan berpuasa dapat menyiapkan manusia dan membawanya kederajat taqwa dan mengangkatnya kederajat muttaqin.

Hendaklah  setiap orang melaksanakan perintah puasa baik puasa wajib dan puasa sunnat. Karena hal tersebut dapat memberikan kebaikan kepada dirinya sendiri baik dari segi disiplin rohani, sosial atau ukhuwah, nafsu syahwat dan kesehatan maupun kemasalahatannya kepada Allah SWT.

Setelah kita mengetahui seluruh keutamaan puasa serta hikmah-hikmah yang terkandung didalam puasa, baik puasa wajib dan puasa sunnah maka kita lebih termotivasi untuk senantiasa menjadikan ibadah puasa.

Dengan berpuasa hubungan manusia dengan manusia akan terjaga karena pengontrolan terhadap sifat seseorang . Selain itu, hubungan manusia terhadap Allah akan semakin dekat karena manusia akan semakin jauh dari perbuatan maksiat.    

DAFTAR PUSTAKA

A. Rahman Ritonga dan Zaenudin, Fiqh Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 2002, Cet. I

Abu Bakr Jabir al- Jaza’iri, Pedoman Hidup Muslim, Bogor: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2003,    Cet. II

Abu Bakr Jabir Al- Jazairi, Ensiklopedi Muslim, Jakarta: Darul Falah, 2002 Cet. I

Abdullah ‘Azhim bin Badawi al –Khalafi, Al-Wajiiz panduan fiqih lengkap, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2007, Cet. I

Abdul Hamid dan Beni Ahmad Saebani, fiqh Ibasah, Bandung: Pustaka Setia, 2009, Cet. I

Abdulrahman Al-Jaziiri, Puasa Menurut Empat Mazhab, Jakarta: PT. Lentera Basritama, 1998, Cet. III

Abu Malik Kamal bin As- Sayyid Salim, Ensiklopedi Wanita, Bogor: Pustaka Ibnu Ktsir, 2006, Cet. III

Abu Usamah Salim bin Ies al-Hilali dan Ali Hasan  ‘Ali ‘Abdul hamid, Meneladani Shum Rasulullah SAW, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2009, cet V.

Anas Ahmad Karzon, Tazkiyatun Nafs, Jakarta: Akbar Media, 2010, Cet I

Anas Ahmad Karzun, Nutrisi Hati  penyucian Ruhani,  Solo: Wacana Ilmiah Press, 2008, Cet. I

Departemen Agama RI, Dasar- Dasar Agama Islam, Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1986, Cet. I

Haya Binti Mubarok Al Balik, Ensiklopedi Wanita Muslimah, Jakarta: Darul Falah, 1421 H, Cet. VII

Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh ‘Ali hasan  ‘Ali ‘Abdul hamid,  Meneladani shaum Rasulullah SAW, Terj. M. Abdul Ghoffar E. M , Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2005, Cet. III.

Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa,  Mensucikan Jiwa Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu, Jakarta: Robbani Press, 2001, Cet. IV

Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs, Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2010, Cet. VIII.

Syaikh Kamil Muhammad ‘ Uwaidah, Fiqih Wanita Edisi Lengkap, Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2010, Cet. XXXII

Yusuf Qardhawi, Fiqih Shiyam puasa menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, Jakarta: Islamuna Press, 1996, Cet. I


[1]A.  Rahman Ritonga dan Zaenudin,  FIqh Ibadah,  Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, Cet. II, hal.

[2] Abdul Hamid dan beni Ahmad Saebani,  Fiqh Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 2009, Cet. I, hal. 151.

[3]Sayyid Sabiq,  Fiqh al- Sunnah ,  Beirut: Dar al- Fikri, 1983, Jilid. I, hal. 364.

[4] Al- kahlani, Muhammad bin Ismail,  Subul al –Salam,  Bandung: Maktabah Dahlan, Jilid II, hal. 150

[5] Wahbah Zulhayli, Al-Fiqh al- Islamy wa Adillatun, Dar al- Fikr, 1989, JIlid II, hal. 566

[6] Syekh Abdul Qadir Al- Jailani, Membuka pintu Hidayah Menuju Jalan Kebenaran, Bandung: Pustaka Setia, 2007, hal. 33

[7] Wahbah Zuhayli, op.cit, jilid I, hal.177

[8] HR. Abu Dawud (no. 2454), at-Tirmidzi(no. 730) an-Nasa-i(IV/196), dan Ibnu Majah (1700) beliau meng’ilalkannya dengan al-Mauquf, dan Hadits ini telah dishahihhkan oleh syaikh al- Abani

[9] Abdul Hamid dan beni Ahmad Saebani,  fiqh Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 2009, Cet. I, hal. 243.

[10] Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh ‘Ali hasan  ‘Ali ‘Abdul hamid,  Meneladani shaum Rasulullah SAW, Terj. M. Abdul Ghoffar E. M , Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2005, Cet. III, hal. 9.

[11] Mampu menikah dengan segala konsekuensi dan tanggungjawabnya..

[12] Diriwayatkan oleh al- Bukhari (IV/106)dan Muslim (1400) dari Ibnu Mas’ud ra.

[13] Diriwayatkan oleh Ahmad (II/241) dan (III/296) dari Jabir. Ahmad (IV/22) dari ‘Utsman bin Abil “Ash, dan ini adalah hadits shahih

[14] Diriwayatkan oleh an-Nasa-i (IV/165), Ibnu Hibban ( hlm. 232_ Mawaarid), al- Hakim (I/421). Dan sanadnya shahih

[15] Maksudnya, mendapatkan pahala terbatas kecuali puasa, di mana pahalanya tanpa hitungan.

[16] Diriwayatkan oleh al- Bukhari (IV/88), Muslim (1151), dan lafazh di atas milik al- Bukhari.

[17] Ibid

[18] Ibid

[19] Yang dimaksud dengan korban di sini ialah menyembelih binatang korban sebagai pengganti pekerjaan wajib haji yang ditinggalkan; atau sebagai denda karena melanggar hal-hal yang terlarang mengerjakannya di dalam ibadah haji.

[20] Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

[21] Ialah: binatang buruan baik yang boleh dimakan atau tidak, kecuali burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing buas. dalam suatu riwayat Termasuk juga ular.

[22] Ialah: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih ditanah Haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadat haji.

[23] Seimbang dengan harga binatang ternak yang akan penggganti binatang yang dibunuhnya itu.

[24] Yaitu puasa yang jumlah harinya sebanyak mud yang diberikan kepada fakir miskin, dengan catatan: seorang fakir miskin mendapat satu mud (lebih kurang 6,5 ons).

[25] Diriwayatkan oleh al- Bukhari (II/7) dan Muslim (144)

[26] Diriwayatkan oleh al- Bukhari (IV/95) dan Muslim (1152).

[27]Ibnu Khuzaimah didalam kitab Shahih-nya (1903)

[28] Abu Bakar Jabir al-jaza’iri, Minhaj al-Muslim, Terj. Hasanudin dan Didin Hafidhuddin, Bogor: PT. Pustaka Lintera AntarNusa, 2003, Cet. II, hal. 470

[29] Kitab Fathul Qadir juz II/42

[30] Abu Bakar Jabir al-jazairi, Minhajul Muslim, Terj. Fadhil bahr, jakarta: Darul falah, 2008, Cet. XV, hal. 414

[31] Yusuf Qardhawi, al- Ibadah fi al –islam, Muasasah al- Risalah, Bairut, 1979, Cet. VI, hal. 27

[32] Ibid, hal. 275.

[33] HR. Bukhari dari Ibnu mas’ud dalam kitab puasa dan lainnya dan diriwayatkan pula oleh muslim(1400)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s