Berilmu sebelum Mengkomunikasikan Pesan Islam kepada Manusia

 

Segala puji bagi Allah Ta’ala, kami memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Seorang muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Agama islam adalah agama ilmu dan amal karena Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih.

Ilmu adalah amal shalih yang palimg utama dan ibadah yang paling mulia diantara ibadah-ibadah sunnah karena ilmu termasuk jenis jihad dijalan Allah Ta’ala. Sesungguhnya agama Allah hanya akan tegak dengan dua hal : dengan ilmu dan penjelasan dan dengan pedang dan tombak. Kedua hal ini merupakan keharusan. Agama ini tidak mungkin tegak dan menang tanpa keduanya.maka, hal yang pertama harus lebih dipentingkan dari pada hal yang kedua. Oleh karena itu, Nabi SAW tidak menyerang suatu kaum sebelum sampainya dakwah kepada mereka. Jadi, ilmu lebih didahulukan dari pada perang.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,

والجها د بالحجّة واللسان مقدّم على الجها د با لسّيف و السّنَا نِ

Jihad dengan hujjah dan lisan lebih didahulukan dari pada jihad dengan pedang dan tombak.

Dilihat dari aspek pengertian ilmu itu sendiri adalah

  • Ilmu  menurut etimologi (al-‘ilmu ) adalah lawan dari (al-Jahl atau kebodohan ) yaitu mengetahui segala sesuatu dengan keadaan yang sebenarnya, dengan pengetahuan yang pasti.

Menurut sebagian ulama bahwa ilmu itu adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-Jahl (Kebodohan )

Adapun pengertian ilmu Syar’i adalah ilmu yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk.[1]

Ilmu merupakan dasar yang paling agung atau penting bagi seorang dai sukses. Oleh karena itu Allah telah memerintahkan dan mewajibkan kepada seorang da‘i agar memiliki ilmu sebelum melaksanakan tugas da’wah, baik da’wah dengan perkataan maupun dengan amalan langsung.

Orang yang berda’wah dijalan Allah tidak dikatakan sebagai orang lurus dan bijak apabila dia tidak memiliki ilmu agama. Allah juga menjelaskan bahwa ilmu merupakan cahaya bagi pembawa dan pengamalnya didunia dan diakhirat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “ Adakah orang-orang sudah mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikian kami jadikan orang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.“ ( QS. Al-An’am:122).

Semoga Shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

A.    ILMU SEBELUM BERDA’WAH

a.     Dalil Hadits tentang Ilmu Sebelum Berda’wah

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، قَال: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا» قَالَ الفِرَبْرِيُّ: حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ

( البخارى:100)


  1. b.      Arti Kata 

لاَ يَقْبِضُ            : Tidak akan mencabut

انْتِزَاعًا              : Sekaligus/seketika

يبق                  : Tersisa          

فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ       : Memberi Fatwa tanpa dasar ilmu

 فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا     : mereka sesat dan menyesatkan

c.       Terjamah Hadits

“Telah bercerita dari Isma’il bin Abi Aways, berkata: diceritakan dari Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu, dia berkata:“Aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-Nya dengan seketika. Akan tetapi, Allah  mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, bila tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai peminpin. Ketika mereka  ditanya,  mereka memberikan fatwa  tanpa dasar ilmu. Sehingga Mereka sesat dan menyesatkan.”Berkata firabriyyun: diceritakan dari ‘Abbas berkata: meriwayatkan dari futaybah, meriwayatkan dari Jarir,dan Hisyam bin Nahwah.( Al-Bukhari: 100).

d.      Maksud Hadits

Kemajuan suatu umat bergantung kepada jumlah ulama dan orang yang terpelajarnya, karena merekalah yang memimpin dan membimbing umat itu. Pemimpin yang bodoh akan memimpin umatnya menuju kebinasaan.

  • Makna Hadits Secara Global

Potret umat akhir zaman, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya  turun dan tersebar  kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda,

 “Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhori (6654)] 

Banyak diantara agama, dan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan).

Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap agamanya dan sunnah Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam. Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- terasa asing dan aneh di sisi mereka.

Memang mereka terkadang mendatangi majelis ta’lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah mereka lelah dan keterpaksaan ikut majelis ta’lim. Yah, hanya sekedar hadir agar orang tidak mencelanya. Maka anda akan lihat orang semacam ini jika hadir di majelis ta’lim, ada yang ngantuk, bahkan tidur. Ada yang bersandar di tembok, jauh dari Ustadz. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi, jika ngantuk dan tertidur, ia bisa sembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Ada yang cerita dengan temannya sehingga mengganggu ceramah Ustadz. Ada yang melayang pikirannya sampai ke Mesir. Inilah kondisi mereka sehingga tak heran jika mereka tetap jahil terhadap agamanya.

Jika mendengar cerita yang menguntungkan dunianya, maka matanya terbelalak. Betul dunia adalah nikmat yang Allah berikan. Namun jangan dijadikan tujuan hidup dan pusat perhatian. Dunia diambil sekedar bekal menuju Allah Ta’ala. Allah tidak memberikan nikmat kepada seorang hamba-Nya, kecuali nikmat itu hanya sekedar alat dan sarana yang dipakai untuk beribadah dan beramal sholeh. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan dan terminal terakhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir, yaitu akhirat.

Fenomena berlombanya kaum muslimin memperbanyak harta benda dan fasilitas duniawi sehingga membuat mereka lupa terhadap agamanya merupakan sebab tersebarnya kejahilan. Jika semakin hari, semakin tersebar kejahilan, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda dekatnya hari kiamat.

Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam  bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ

Diantara tanda-tanda kiamat: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (80), dan Muslim dalam Shohih-nya (2671)]

Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,

 “Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhoriy (6654)]

Di tengah kabut kejahilan menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan kerakusan terhadap harta. Ini semua diakibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat di tengah manusia. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda dalam riwayat lain ketika menyebutkan tanda dekatnya hari kiamat,

 “Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]

Di zaman sekarang ini kejahilan merata dimana-mana, baik di kota maupun di pedalaman. Kejahilan di negeri kita bukan hanya mengenai rakyat jelata yang tak berpendidikan agama, bahkan juga mengenai kaum terpelajar. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi-shollallahu alaihi wasallam-,

 “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)” .[HR.Al-Bukhory dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm (2673)]

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, “Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang muthlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang“.

Alangkah banyaknya pemimpin dan ustadz-ustadz seperti ini. Mereka diangkat oleh manusia sebagai seorang ulama’ dan ustadz. Padahal ia tidaklah pantas dijadikan panutan, karena ia jahil. Kalaupun ia berilmu, namun ilmu itu dibuang di belakang punggungnya. Manusia jenis ini banyak bermunculan bagaikan jamur di musim hujan.

Coba lihat, manusia mengangkat seorang pelawak sebagai “da’i sejuta ummat”. Padahal bisanya cuma tertawa dan menggelitik para pendengar.

Dari arah lain, muncul para normal yang dulunya dijauhi oleh manusia, karena dikenal memiliki sihir. Sesaat kemudian berubah menjadi “da’i sejuta ummat”, karena sekedar pernah memimpin dzikir jama’ah yang dihadiri oleh sebagian kiyai jahil dan orang-orang yang memiliki kedudukan. Dulunya tukang sihir dan dukun (para normal), kini menjadi ustadz, bahkan terakhir bergelar “KH”.

Artis pun tak ketinggalan ambil job dalam kancah dakwah dengan bermodalkan semangat kemampuan tampil di depan publik dan wajah ganteng sebagai modal dengkul untuk menarik ummat menuju ke neraka. Bagaimana tidak, sebab seorang yang berdakwah tanpa ilmu akan mengantarkan dirinya berbicara tanpa batas, sehingga terkadang ia telah merusak dan menghancurkan agama pendengarnya, namun ia tak sadar karena memandang dirinya lebih pandai dari pendengar. Padahal ia jahil atau mungkin lebih jahil dari pendengar.

Lebih para lagi, jika dakwah yang ditangani oleh orang-orang jahil dihiasi dengan perkara-perkara yang melanggar syari’at, seperti dakwah dihiasi dengan musik dengan istilah “Nada dan Dakwah“. Ini adalah cara dakwah yang keliru, karena menyalahi tuntunan Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, kita sesalkan adanya sebagian orang-orang jahil atau pura-pura jahil yang menyemarakkan program “Nada dan Dakwah” yang jelas dan nyata menyelisihi agama !! Ini lebih diperparah lagi dengan bantuan “Guru Besar” alias televisi dalam menyemarakkannya demi meraih keuntungan duniawi yang semu, dan memperturutkan hawa nafsu.

Realita ummat yang demikian ini membuat dahi berkerut dan kepala sakit karena banyaknya dan bertambahnya “PR” yang perlu diselesaikan oleh para dai kebenaran. Dengan realita kejahilan ummat seperti ini, tak jarang jika banyak menimbulkan masalah. Tak heran jika terkadang ada sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam yang ingin diamalkan di zaman ini, mereka serta merta merasakannya sebagai suatu yang asing, menolaknya, menganggapnya bukan dari Islam!! Bahkan memusihi dan menyakiti sebagian hamba-hamba Allah Ta’ala yang mengamalkannya.

Jika kejahilan tentang agama merata di tubuh ummat, maka akan tersebar berbagai macam pelanggaran, syirik, kekafiran, bid’ah, dan maksiat, baik yang nampak, maupun yang tersembunyi. Inilah awal kehinaan yang akan menimpa ummat Islam yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam.

Hadist Ini Terdapat Dalam Beberapa Buku-Buku yaitu, diantaranya:

  • Terjemah Hadits Shahih Bukhari Jilid I , Terj. Zainuddin hamidy, Fachruddin, Nasharudin Thaha, Johar Arifin, Rahman Zainuddin, Kuala Lumpur: Kilang Book Center, Cet. VI, 2005,  hal 59-60, Hadist ini terdapat dalam Bab Ilmu,  Hadist no. 76
  • Terjemah Hadist Shahih Muslim jilid 4, Terj. Ma’mur Daud, Kuala Lumpur:kilang book center. 2007, cet. VIII, hal. 249, Hadist ini terdapat dalam bab Ilmu, tentang  tanda-tanda kiamat Hadits no. 2297
  • Syarah Riyadush Shalihin, Penulis. Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali,  jilid 4, Jakarta: pustaka Imam Asy-Syafi’I, Cet.I,  2007,  hal 310, dalam Bab  keutamaan ilmu. Hadits no. 1392
  • Riyadhus Shalihin, Penulis. Imam An-Nawawi, Terj. Thariq Abdul Aziz,  Jakarta: Pustaka As-sunnah, 2009, Cet. I Dalam BAB Ilmu, hadist no. 1410
  • Enslikopedi Islam Al-Kamil,  Penulis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri. Jakarta: Darus Sunnah Press, Cet. II, 2007. Dalam BAB Ilmu. hal. 308-309
  • Tazkiyatun Nafs, Penulis. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambali, Imam Al-Ghazali, Solo: Pustaka Arafah, 2011, dalam Bab Ilmu, hal. 23-24 
  • Da’wah di Bawah Bimbingan Sunnah ( Kumpulan Hadits-Hadist Da’wah), Penulis  lukman ma’sa, Bekasi: Waznah Press, Hadist no. 8, hal. 12
  • Program Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari 1/100, dan shahih muslim2673                               B.     KANDUNGAN HADITS SERTA PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

Hancurnya alam dunia ini dengan terjadinya kiamat akan didahului dengan hancurnya pilar-pilar penegak kemaslahatan hidup manusia yang menjaga kepentingan dunia dan akherat mereka. Di antara pilar tersebut adalah; agama.  Rusaknya agama akibat hilangnya ilmu.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kemaslahatan hidup umat manusia. Islam memperingatkan mereka dari hal-hal yang dapat merusak ketentraman hidup mereka. Di antara perkara yang harus mereka perhatikan adalah kewajiban menjaga urusan agama, kejernihan akal, dan kejelasan nasab. Dan itu juga mengisyaratkan bahwa syari’at Islam adalah syari’at yang sangat bijaksana karena ia diturunkan dari Allah al-Hakim (Yang Maha bijaksana).
  2. Dari hadits yang agung ini, kita bisa memetik pelajaran bahwa kehancuran umat ini adalah dengan hancurnya agama.
  3.  Janganlah anda heran jika ternyata musuh-musuh umat Islam (dari kalangan orang kafir dan munafik) begitu gencar berupaya menjauhkan generasi muda kaum muslimin dari al-Qur’an dan Sunnah serta para ulama Rabbani.
  4. Dorongan untuk menimba ilmu. Ilmu tidak akan diangkat melainkan dengan cara wafatnya orang-orang yang berilmu. Selama masih ada orang yang menimba ilmu maka pengangkatan ilmu (secara total) tidak akan terjadi.
  5. Hadits ini menunjukkan keutamaan menjaga ilmu.
  6. Terangkatnya ilmu bukanlah dicabutnya ilmu begitu saja dari dada-dada manusia. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah meninggalnya para ulama atau orang-orang yang mengemban ilmu tersebut.
  7. Bahwasanya orang alim yaitu orang yang memahami ilmu al-Kitab dan as-Sunnah- merupakan aset umat yang sangat berharga.
  8. Wafatnya ulama merupakan musibah besar bagi alam semesta. Karena dengan kepergian mereka maka pergi pula ilmu yang mereka miliki. Sehingga hal itu akan menyebabkan cacatnya pemahaman agama.
  9. Syarat orang yang berfatwa, harus memiliki ilmu yang sesuai Al-Qur’an dan As-sunnah.
  10. Hadits ini merupakan bentuk kasih sayang Allah dengan cara diwafatkan para ulama karena takut terjadi fitnah dunia yang menimpa dirinya.
  11. Dalam berdakwah kita harus mengimbangi dengan kapasitas ilmu kita.
  12. Ilmu menjadikan seseorang diangkat derajatnya.
  13. Ilmu adalah garda pengaman dari masuknya kesesatan.
  14. Meninggalnya ulama adalah suatu musibah yang menimpa ummat dan meretakkan bangunan Islam.
  15. Anjuran untuk memelihara Ilmu dan peringatan agar tidak mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin.
  16. Fatwa adalah kepemimpinan hakiki. Oleh karena itu, orang yang lancang mendahuluinya tanpa Ilmu termasuk orang yang tercela dalam islam.
  17. Apabila ulama tidak memenuhi kewajibannya secara sempurna, maka yang  akan menjadi pemimpin kelak adalah orang-orang bodoh.
  18. Fatwa dengan pendapat adalah jalan kesesatan dan menyesatkan.
  19. Orang bodoh lancang berfatwa. Dia berfatwa tanpa berdasarkan ilmu. Berbeda dengan para ulama, apabila mereka ditanya tentang sesuatu lalu dia tidak mengetahuinya, maka dengan tegas dia menjawab saya tidak tahu.
  20. Sebab utama kehancuran di Masyarakat mengangkat pemimpin yang bodoh. Sampai-sampai diistilahkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kebodohan ini merupakan daa’un qaatilun (penyakit yang mematikan). Sementara, penyakit ganas ini tidak akan bisa disembuhkan kecuali dengan siraman dalil al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
  21. Belajar dari sejarah para Ulama bahwa Para ulama sangat mengagungkan ilmu. Maka dari itu kita belajar dari para ulama cara-cara menuntut Ilmu yang bermanfaat.
  22. Dari sinilah kita mengetahui bahwa sesungguhnya kemuliaan dan kejayaan umat ini akan kembali. Jika,  mau kembali menekuni ajaran Allah dan Rasul-Nya 

Kesimpulan Dan Saran

Para ulama merupakan pengemban risalah para Nabi, yang dengan gigih mereka mencari Ilmu hingga akhir hayatnya sampai kesebrang pulau nan jauh disana, kemudian mereka tanpa mengenal lelah menyampailan risalah para Nabi  kepada semua umat menurut apa yang dibawanya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Wafatnya para ulama merupakan musibah yang paling besar. Karena bila begitu maka orang-orang  akan mengangkat manusia yang bodoh menjadi pemimpin dan bila ditanya mereka akan berfatwa menurut paradigma mereka sendiri.

Ini adalah perbuatan yang amat  berbahaya dan paling besar dosanya. Allah Ta’ala telah menyandingkan berbicara tanpa ilmu dengan perbuatan syirik. Sebagaiman Firman Allah:  

Katakanlah: “Tuhanku Hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”( QS. Al-A’raaf : 33)

Apabila seseorang mengatakan suatu perkara  tanpa ilmu atau tidak berdasarkan dugaan kuatnya, setelah menelaah, berijtihad, dan memperhatikan dalil-dalil, maka terkadang dia akan berkata atas nama Allah dan rasul-Nya SAW, dengan perkataan yang tidak berdasarkan ilmu, dan dia harus siap menghadapi siksa, karena Allah ta’ala berfirman:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak[1159] tatkala yang hak itu datang kepadanya? bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?“  ( QS. Al-‘Ankabut: 68)

Maka hal itu wajib bagi manusia untuk bersikap hati-hati ( Wara‘)dan takut untuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Oleh karena itu hendaknya bagi para Ustadz dan Ustadzah memiliki ilmu terlebih dahulu sebelum  kita berda’wah.

DAFTAR PUSTAKA

Imam Al-Bukhari, Terjemah Hadits Shahih Bukhari Jilid I , Terj. Zainuddin hamidy, Fachruddin, Nasharudin Thaha, Johar Arifin, Rahman Zainuddin, Kuala Lumpur: Kilang Book Center, 2005, Cet. VI

Imam Muslim, Terjemah Hadist Shahih Muslim jilid 4, Terj. Ma’mur Daud, Kuala Lumpur : kilang book center. 2007, cet. VIII

Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin,  Terj. Thariq Abdul Aziz,  Jakarta: Pustaka As-sunnah, 2009, Cet. I

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambali, Imam Al-Ghazali, Tazkiyatun Nafs, Solo: Pustaka Arafah, 2011

Lukman Ma’sa, Da’wah di Bawah Bimbingan Sunnah ( Kumpulan Hadits-Hadist Da’wah), Bekasi: Waznah Press

Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2010

Program Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari 1/100, dan shahih muslim2673

Sa’id al-Qahthani, Menjadi Da’I yang Sukses, Jakarta: Qisthi Press, 2005

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri,  Enslikopedi Islam Al-Kamil,  Jakarta: Darus Sunnah Press,  2007, Cet. II

Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali, Syarah Riyadush Shalihin, Jilid 4, Jakarta: pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2007, Cet.I


[1] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, Bogor: Pustaka At-Taqwa, 2010, Cet. V, Hal. 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s