Tokoh dan Kiprah da’wah PERSIS

Tokoh – Tokoh PERSIS

  1. Ahmad Hassan

Hassan bin Ahmad yang lebih dikenal dengan A. Hassan, Ibunya Hajjah Muznah ( Seorang keturunan madras kelahiran Surabaya. Ayahnya Ahmad ( Sinna Wappu Maricar) mempunyai asal-usul keturunan dari Mesir yang menetap lama di India.[1]

Ahmad hassan lahir di Singapura pada 1887, berasal dari kelurga campuran indonesia dan india. Atas dorongan dari dua sahabatnya bibi wentee dan muallimin ia pindah ke Bandung pada tahun 1924 untuk mendirikan perusahaan tekstil. Namun perusahaan itu yang didirikan gagal sehingga ditutup. Selama di bandung ia tinggal dirumah H. Muhammad Yunus salah seorang pendiri PERSIS, selama disana ia sering mengikuti pengajian, akhirnya pada tahun 1926 iapun bergabung dalam PERSIS.

Debat-debat Ahmad Hassan diantaranya sebagai berikut:

  • Perdebatan dengan NU tentang Taqlid, Tahlil, Qunutan, Niat

  • Perdebatan dengan Nasionalisme

  • Perdebatan dengan beberapa Atheis

  • Perdebatan dengan orang Kristen

  • Perdebatan dengan Buya Hamka

  • Perdebatan soal jabat tangan dll

Dampak positif dan negative dari debat A. Hasan

Dampak positif

Secara tidak langsung telah membawa PERSIS sebagai organisasi massa dalam barisan muslim modernis dan sekaligus menjadikan PERSIS diperhitungkan keberadaannya, juga secara paham cepat meluas. Disamping itu, sebagian lawan debat A.Hasan yang kalah dalam perdebatannya itu mereka berbalik arah menjadi pengikut setia, sekaligus menjadi bukti tentang kemampuannya dalam memberikan argumentasi yang logis.

Dampak Negatif

Dapat dibuktikan terhadap orang-orang yang tidak sadar(tidak mau menerima) tentu malah membenci PERSIS disebabkan metodenya yang tegas, keras dan tanpa kompromi.[2]

2. Mohammad Natsir

M. Natsir yang bergelar Datuk Sinaro Panjang, terlahir di Jembatan Berukir Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat pada h. Jum’at 17 Jumadil Akhir 1326H/ 17 Juli 1908. Ibunya bernama Khadijah, Ayahnya Mohammad Idris Sutan Saripado, seorang pegawai yang pernah menjadi juru tulis pada kantor Kontoler di Maninjau. Sekitar tahun 1927 M. Natsir hijrah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di AMS A-2( setingkat SMA).

Bahkan, dengan inisiatif M.Natsir, kemudian Persis mendirikan berbagai lembaga pendidikan Islam serta Pesantren PERSIS pertama di Bandung.

Kiprah Da’wah Persis di Indonesia

  1. Penerbitan-penerbitan[3]
    1. Majalah

Publikasi dilakukan melalui penerbitan media cetak, media cetak yang pertama diterbitkan di Persis adalah majalah pembela Islam ( pada bulan Oktober 1929, majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa ( majalah berbahasa Sunda)(1930), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Hujjatul Islam ( 1956), majalah Risalah (1962) hingga sekarang, sebagaian majalah-majalah terbitan  persis mengikuti format umum yang digunakan dalam pembela Islam, yang mencerminkan pandangan Islam normatif dari para aktivisnya. Karenanya ada tiga bagian dalam penerbitan persis

Pertama: Artikel umum. Baik berasal dari dalam amupun luar organisasi

Kedua: Berisi ungkapan-ungkapan pandangan ideologis yang ringkas dan tajam biasanya ditandai dengan serangkaian inisial atau nama samaran

Ketiga: Tentang tanya jawab.

2. Buku[4]

Menurut Howard M. Federspiel dalam bukunya, labirin Idiologi Muslim: Pencarian dan Pergulatan Persis di Era kemunculan Negara Indonesia ( 1923-1957).

Buku persis dapat dikategorikan enam kelompok:

  1. Buku yang membahas tentang keimanan ( at-tauhid)

  2. Membahas berbagai konsepsi persis tentang hukum islam ( al-Burhan )

  3. Membahas tentang Al-Qur’an ( al-Furqan )

  4. Buku yang menjelaskan Sejarah muslim era awal, ( buku Tarich Islam karya al-Kahiri dan Sabirin.

  5. Buku informasi umum tentang organisasi persis dan misinya

  6. Buku-buku yang membahas berbagai persoalan politik

  7. Perdebatan[5]

Aktivitas da’wah persis pada awal tahun 1930an adalah perdebatan formal. Perdebatan terjadi dalam beberapa bentuk yang berbeda. Sebagian merupakan diskusi-diskusi terbatas pada audiens yang diundang, sebagaian merupakan tukar pendapat tertulis yang seringkali dimuat dalam media publikasi dari masing-masing pihak yang berselisisis, dan sebagian kecil lainnya merupakan debat publik formal.

2. Tabligh Akbar[6]

Pada tahun 1935 dan 1936, para aktivis persis mengalihkan kegiatannya pada penyelenggara sesi-sesi penyampaian informasi (tabligh) sebagai alat untuk menyampaikan pesan Islam reformis kepada komunis muslim di Jawa Barat. Fokus dari sesi tabligh tersebut adalah seperti masalah sedekah kepada orang miskin, tentang puasa, menentang metodelogi penelitian tradisional dll.

3. Pendidikan formal[7]

Pada bulan maret 1936, persis mendirikan institusi akademik baru yang disebut “Pesantren“. Sebuah brosur yang diterbitkan di Sekolah tersebut kemudian menyatakan bahwa“ tujuan didirikannya pesantren adalah untuk menghasilkan para pembela Islam yang mampu menyebarkan, mengerjakan, dan mempertahankan Islam dimanapun mereka berada.

Muhammad Natsir mendirikan TK dan His pada tahun 1930, Sekolah Mulo ( 1931) dan Sekolah Guru (1932), KHE Abdurrahman mendirikan pesantren persis (1935), A.Hassan mendirikan Pesantren Besar pada tahun (1936) di Bandung. Bulan Maret 1940 dipindahkan ke Bangil ( Jawa Timur ).  Tahun 1941 dibuka pesantren bagain perempuan dengan 12 orang murid,Tahun 1942 didirikan pesantren tingkat Ibtidaiyyah. Tahun 1950 E. Abdullah dan E abdurrahman mendirikan tingkat Tsanawiyah. Untuk tingkat tajhiziyah dan Muallimin baru dibuka tahun 1955.

4. Politik[8]

Persis bukanlah anggota politik, tetapi persis tidak menghalangi anggotanya untuk aktif di politik yang dipandang sehaluan dengan persis. Di tahun 1920an dan awal tahun 1930an terdapat hubungan yang erat antara beberapa anggota persis dan Sarekat Islam ketika persis merupakan organisasi substansial. Di bidang politik persis dipandang istiqomah mengikis bid’ah politik diantaranya nasionalisme, sekularisme, komunisme, falsafah negara yang disoroti tajam oleh tokoh persi yaitu ( KH. Isa Anshari).


[1] Dadan Hamdani, Pemikiran dan Da’wah A. Hassan ( Studi Analisis Metode Debst A. Hassan), Skripsi, Jakarta: Perpustakaan STID Mohammad Natsir, 2004, hal. 32

[2] Ibid, hal.83

[3] Rijal Arham, Da’wah Tajdid Islam di Banten ( Studi kasus Da’wah Persatuan Islam di Kp. Gunung Buntung), Skripsi,Jakarta: Perpustakaan STID Mohammad Natsir, 2007, hal. 46

[4] Ibid, hal. 47

[5] Ibid, hal.48

[6] Ibid, hal. 49

[7]Ibid, hal. 49

[8] Ibid, hal. 50

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s