Nabi Zakaria as

 

Nabi Zakaria a.s

  1. I.                   MUQADDIMAH

Segala puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hidup kita tidak pernah lepas dengan apa namanya sejarah, baik itu sejarah kehidupan kita yang dimulai dari bayi sampai akhir hayat kita.

Sejarah mempunyai nilai-nilai hikmah yang terkandung didalamnya yang begitu luar biasa yang bisa kita ambil  ibrahnya.

Pada makalah ini, membahas tentang sejarah kehidupan para Nabi. Yang khususnya tentang Nabi Zakaria. Nabi Zakaria adalah Nabi yang termasuk salah satu orang shaleh, serta sabar dalam penantian menunggu kehadiran buah hatinya. Sampai usia lanjut pun dia tidak pernah lelah dalam  berdo’a kepada Rabbnya.

  1. II.                PEMBAHASAN
    1. A.    Nasab Nabi Zakaria

Nama               : *Zakaria bin barkhiya

*Zakaria bin Laduni bin Muslim bin Shaduq bin Hasyban bin     Dawud  bin Sulaiman bin Muslim bin Shadiqah bin Barkhiya bin Bal’athah bin Nahur Ibnu Syalum bin bahfasyath bin Inamin bin Ruhai’am bin Sulaiman bin Dawud.

Dari kalangan : Bani Israil

Umur                : ada yang mengatakan 77 tahun dan ada yang mengatakan 99 tahun tapi yang jelas hanya Allah yang tau karena pada waktu itu Nabi Zakaria sudah lanjut usianya( dalam penantian untuk memiliki seorang anak )

Istri                   : Asyya  

Anak               : Yahya Bin Zakaria

Raja yang hidup pada masa Nabi Zakariya    : Hirodus

Dalam Shahih al Buhkari disebutkan bahwa dia adalah seorang tukang kayu yang bekerja keras dan makan dari hasil jerih payahnya sendiri (muslim (IV/1847)[1]

  1. B.     Kisah Nabi Zakaria didalam Al-Qur’an
    1. a.      Keutamaan Nabi zakaria a.s

Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS Al- An’am: 85 )

  1. b.      Allah SWT memberikan tugas kepada Nabi Zakaria untuk memelihara Maryam binti Imran bin Matsan.

Firman Allah SWT dalam( QS. Ali-Imran: 37-38) 

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

  1. c.       Nabi Zakaria as.  Dan do’anya agar dianugerahi seorang anak

Firman Allah SWT dalam QS. Maryam: 1-6)

Kaaf Haa Yaa ‘ain Shad. ( yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.

Yaitu ketika ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

Ia ( Zakaria) berkata: ” ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada-Mu, ya Tuhanku.

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku[2]sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah kepadaku aku seorang anak dari sisi-Mu. yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluaga Ya’qub. Dan jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhai.”

  1. d.      Kabar gembira tentang kelahiran Anak bernama Yahya

Firman Allah SWT QS. Al-Anbiya: 90 

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas2.dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” ( Qs. Al-Anbiya: 90)

2Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya

  1. e.       Keheranan  Nabi Zakariya as setelah Do’anya diterima

Firman Allah swt : Maryam: 8

Ini adalah keheranan zakariya as saat permohonannya diterima dan diberi kabar gembira dengan seorang anak. Dia sangat gembira, lalu bertanya mengenai bagaimana ia akan memperoleh anak, padahal istrinya saat itu mandul. Sejak usia muda ia belum pernah melahirkan anak, apalagi sekarang sudah berusia lanjut. Dirinya sendiripun sudah tua sekali. Maksudnya tulang sudah rapuh dan kering, tidak tersisa lagi padanya air mani dan keinginan jima’. 

Jawaban malaikat:

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah aku ciptakan kamu sebelum itu, Padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.(QS. Maryam : -9)

  1. f.       Tanda Nabi zakaria  bahwa dia akan mendapatkan seorang keturunan

Nabi Zakaria berkata: “Ya Rabb, berilah aku suatu tanda”. Atau petunjuk atas terwujudnya apa yang engkau janjikan kepadaku, agar jiwaku merasa tentram dan hatiku pun merasa tenang.

Allah SWT berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat”.

“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

 (QS. Maryam  :10-11)

Menurut Mujahid, Ikrimah, wahab bin Munabbih, Al sadi, dan Qatadah mengemukakan: ”lidahnya tidak dapat bergerak tanda adanya penyakit padanya.”

Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: ”Zakaria dapat membaca dan bertasbih, tetapi tidak dapat berbicara dengan seorang pun.”

  • Kisah Nabi Zakaria juga terdapat dalam QS. Al-maidah:39-41
  1. g.      Kelahiran Yahya dan sifat-sifatnya

Allah memberikan Yahya sifat-sifat diantarnya: kepahaman Ilmu, kesungguhan, tekad, penerimaan terhadap yang baik, ketekunan, keseriusan dalam belajar, rasa belas kasihan.

Sangat patuh terhadap orang tua, berbakti kepadnya, dan menjauhi sifat durhaka kepada orang tua.

  1. h.      Masa kanak-kanak Nabi Yahya

Firman Allah SWT:

Hai Yahya, ambillah3 Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan Kami berikan kepadanya hikmah4 selagi ia masih kanak-kanak, (QS. Maryam: 12)

3 Maksudnya: pelajarilah Taurat itu, amalkan isinya, dan sampaikan kepada umatmu.

4Maksudnya: kenabian. atau pemahaman Taurat dan pendalaman agama.

Allah Ta’ala memberitahukan tentang lahirnya seorang anak sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan Allah SWT kepada ayahnya, Dan bahwasannya dia juga mengajarikan Al-Kitab dan Al-hikmah sedangkan ia waktu itu masih kecil.

Firman Allah Ta’ala: “ dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa,”( Qs. Maryam: 13)

  1. Kematian Nabi Zakariya as dan Nabi yahya

Para ulama menyebutkan beberapa sebab terbunuhnya Yahya bin Zakaria.

Yang paling manyhur diantaranya, adalah sebagian raja pada saat itu di Damaskus bernaksud akan menikah  dengan wanita-wanita yang merupakan muhrimnya, yaitu yang tidak boleh dinikahinya. Lalu Yahya as melarang hal tersebut,sehingga wanita-wanita itu merasa tidak suka kepada Yahya.

Setelah hubungan antara wanita-wanita dengan Raja-raja itu mendapat rintangan, wanita-wanita itu meminta raraja agar mempersembahkan darah Yahya kepadanya. Raja itu pun setuju untuk membunuh Yahya , lalu membawa kepala dan darahnya dalam sebuah bejana kehadapan wanita tersebut.  Ada yang mengatakan wanita itu langsunh binasa seketika itu.

Kemudian para Ulama berbeda pendapat mengenai tempat terbunuhnya Nabi Yahya bin Zakaria, apakah di Masjidil Aqsa’ atau ditempat lainnya. Mengenai hal tersebut, ada dua pendapat yang berbeda, yakni;

  1. Ats-Tsauri menceritakan dari al-A’msy, dari Syamr bin ‘Athiyyah, dia bercerita :” yang terbunuh diatas sebongkah batu yang terdapat di Baitul Maqdis itu ada tujuh puluh Nabi, diantaranya adalah Yahya bin Zakaria as.
  2. Abu Ubaidah al-Qasim bin salam, dari Sa’ad bin Salam, dari Said bin Musayyab, dia bercerita ;” Bukhtanshar pernah datang ke Damaskus, tiba-tiba dia sudah berada bersama darah Yahya bin Zakaria as yang tengah direbus. Kemudian dia bertanya mengenai diri Yahya, maka merekapun memberitahukan kepadanya. Dan pada darahnya itu terbunuh tujuh puluh ribu

Sanad hadist ini shahih, disandarkan kepada Sa’id bin Musaayyab, dimana dia menyatakan bahwa Yahya terbunuh di Damaskus.[3]

Tentang kematian Nabi Zakaria apakah dibunuh secara wajar atau dibunuh?

Sedangkan tentang kematian ayahnya, Nabi Zakaria, maka terjadi perbedaan riwayat dari Wahab bin Munbih : Apakah Nabi Zakaria mati secara wajar ataukah ia dibunuh?  terdapat dua riwayat yaitu:

  • Abdul Mun’im meriwayatkan dari Idris bin Sinan dari ayahnya dari Wahab bin Munbih mengatakan bahwa Zakaria lari dari kaumnya lalu masuk ke sebuah pohon, lalu mereka pun mendatanginya dan menggergaji pohon itu. Tatkala gergaji itu mengenai otot-ototnya dan ia pun merintih lalu Allah mewahyukan kepadanya,”Jika rintihanmu tidak mereda pasti aku akan jungkalkan bumi dan apa-apa yang ada diatasnya maka Zakaria pun menghentikan rintihannya sehingga dirinya terpotong dua”, ini diriwayatkan didalam hadits yang marfu’.
  • Ishaq bin Basyar dari Idris bin Sinan dari Wahab mengatakan bahwa orang yang terbelah didalam pohon itu adalah Sya’ya , adapun Zakaria meninggal secara wajar.
  • WALLAHU A’LAM.

KESIMPULAN

Hikmah yang terkandung dalam kisah Nabi Zakaria as dan Nabi Yahya a.s bin Zakaria adalah:

  1. Dalam menghadapi semua cobaan hadapilah dengan sabar dan dengan berdo’a kepada Allah swt
  2. Untuk menantikan sesuatu apa yang kita harapkan tidak semudah membalikkan telapak tangan ada proses yang hendak dalam dicapai maka teruslah berusaha dalam mencapainya.
  3. Ingat sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.
  4. Jangan pernah menyerah dalam kesulitan.

REFERENSI

Al-Qur’anulkarim                                  

Bey Arifin, Rangkaian Cerita dalam Al-Qur’an, Bandung: Alma’arif, 1995, Cet.14

Ibnu Katsir,  Kisah Para  Nabi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2001, Cet. I

Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Kisah shahih Para Nabi jilid 2,  Jakarta: Imam asy-syafi’i, 2009, Cet. 2

Syaikh Shafiyyun al-Mubarak, Shahih tafsir Ibnu Katsir jilid 5, jakarta: Pustaka Ibnu katsir, 2006, Cet. III

Zaid Husain Almahdi, Kisah 25 Nabi & Rasul, Jakarta: Pustaka Amani, 1995, Cet. I


[1] Syaikh shafiyyur al-Mubarak, Shahih tafsir Ibnu katsir jilid 5, Jakarta: Ibnu Katsir, 2006, Cet. III, hal. 611

[2] Yang dimaksud oleh Zakaria as. Dengan mawali adalah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya, sepeningalnya. Yang dikhawatirkan zakaria adalah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainya, oleh sebab itu ia meminta agar dianugerahi seorang anak.

 Ibnu katsir, Kisah Para Nabi,  jakarta: Pustaka Azzam, 2001, Cet I, hal. 598

[3] Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Kisah shahih Para Nabi jilid 2,  Jakarta: Imam asy-syafi’i, 2009, Cet. 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s